Monday, November 6, 2006

Jurus "Tertinggi"

Pendahuluan
Ketika sedang tiduran di lantai sebuah kontrakan tiba-tiba "Ngalamun opo to 'Lil?",  suatu teguran yang dulu sering diucapkan seorang terman. Seperti biasa saya jawab dengan enteng, namun saat itu saya jawab "kaé lagi mikir nopo kok jam mubenge ngono". Karuan saja teman tadi pasti menganggap saya sudif. Meski hanya guyonan tapi lama-lama jadi mikir betulan tentang mubenge jam.
Mula-mula, saya ingat dulu ada guru Fisika yang mengajarkan bahwa bumi itu berrotasi searah dengan arah jarum jam. Lalu saya pikir bagaimana posisi jamnya., rnenghadap ke atas atau ke bawah, ke depan atau ke belakang? Dan bila diperbandingkan dengan jam, apakah jam itu ada lebih dahulu dari pada bumi? Tragisnya, mengapa juga arah (rotasi) jarum jam tersebut berputar seperti itu?

Orang yang mendengarkan pertanyaan terakhir itu pasti akan menjawab mulai dari "orang dari sono-nya 'kok!", "memang sudah umumnya!,” “memang sudah diset seperli itu" sampai "ngapain mikir tentang itu, kurang kerjaan apa!", dan lain sebagainya.
Apalagi, orang yang menggunakan jam tidak akan terganggu gara-gara tidak mengetahui mengapa jarum jam kok berputar seperti itu. Bahkan, seorang ahli reparasi jam pun tidak akan berkurang keterampilannya mereparasi jam gara-gara tidak membaca tulisan ini.
Yah, semua jawaban dan kenyataan itu ada benarnya. Namun, menurut penulis karena yang membuat itu dulunya bukan orang Kendal. Lho lha, mana bisa begitoe?

Arah Putaran Jarum Jam
Bagaimana ta arah putaran jarum jam bisa sampai seperti yang kita lihat sampai sekarang?
Di   sini  akan  diuraikan  dengan  singkat  saja. Mula-mula taruhlah sebuah jam (clock), jika kita ambil dan amati tentu saja yang menyebabkan jam berputar memang rangkaian onderdilnya yang ada yang diset dan diserasikan sedemikian rupa satu sama lain; rnulai dari jarum, pegas, gerigi, baut, wadah dan Jain-lain sampai baterainya. Adapun kecepatan putarannya disesuaikan aturan standarnya. Inilah, teknik pertama, mendeskripsikan (penyebabnya) seperti adanya.
Namun mengapa gerakan jarumnya kok diarahkan demikian (lihat gambar), lebih mudahnya dari kiri ke kanan. Tentu ini tidak terjawab rnelalui teknik pertama, karena menyangkut factor latar belakangnya, sepert: sejarah, geografi, pengaruh, dan sebagainya.
Melalui sejarah dengan mengumpulkan dan mengurutkan data, akan menjawab bahwa jam (termasuk arah putaran jarumnya) dipengaruhi jam matahari kuno. Kita juga mengenal kernasyhuran jam swiss karena tradisi, bisa dikatakan orang-orang eropalah yang pertama kali memproduksi masal jam tersebut, melalui revolusi industrinya.
Kemudian, jam gandul pertama dibuat oleh seorang belanda, Lagi, Isaac Newton waktu kecil pernah membuat jam matahari yang sekarang masih tersimpan di sebuah museum di Inggris. Juga diketahui jam matahari sudah ada sejak jaman Romawi kuno, sebelum Masehi, karena sistem penanggalan solar (berdasar matahari) sudah ada saat itu. Singkatnya, ini mempelajari asal-usulnya, sebagai teknik analisa kedua.
Masih belum puas juga!?
Kita lengkapi dengan teknik ketiga, yakni dengan mengandaikan untuk faktor geografinya. Kita tahu bahwa eropa terletak di belahan bumi utara, dan jam matahari berdasarkan bayangan benda. Andaikanlah jika kita tancapkan sebuah benda/tongkat di sana, dengan posisi matahari yang terbit di timur dan di sebelah selatannya (katulistiwa) pasti bayangan tongkat tersebut jatuh di barat tongkat tersebut. Jika matahari bergerak dari timur ke barat maka bayangan tongkat yang berada di utara akan bergerak perlahan ke arab timur membentuk setengah lingkaran. Singkatnya, gerak bayangan dari barat ke timur itulah yang menyebabkan timbulnya budaya atau tradisi arah putaran jarum jam seperti itu dan dan digunakan sebagai standar sampai sekarang. Lalu andaikan juga jika yang menemukan itu dulu orang "selatan", orang Kendal misalnya?
Bila disirnpulkan, dalam teknik pertama kita mendeskripsikan/ menerangkan sesuatu; teknik kedua, kita menelaah faktor lataniya, sejarah misalnya; dan teknik terakhir membawa kita menghayal (misalnya meluncur ke angkasa) untuk mencari sudut pandang, sebagai pelengkap teknik yang lain.
Dan ehm... ehm... (batuk karena mikirin jam), ternyata melamun eh menghayal juga merupakan sebuah teknik analisis tingkat tinggi untuk pemecahan masalah. Tentu saja dengan selalu memperhitungkan konteks serta jika terlalu 'tinggi', mendaratlah!                                                                    

Aplikasi Metode
Berbeda dengan fenomena alam, fenomena sosial/budaya, seperti dalam ekonomi, hukum, kesusastraan, dsb seringkali tidak cukup dipecabkan hanya diterangkan atau berdasarkan prinsip umurn saja.
Fenomena-fenomena kebudayaan (produk manusiawi) kadang dapat didekati dengan mengerti, yakni menemukan makna sesuatu, yang dilakukan dengan menempatkannya dalam konteksnya. Karakter "I" misalnya hanya dapat dirnengerti dalam konteksnya; istilah "predikat" juga dapat dirnengerti melalui jaman historisnya, etimologinya.

Penutup
Sebagai metode menghayal ini tampak kurang ilmiah dibanding dengan metode lain yang biasa digunakan, digunakan karena berguna bagi kita; namun tanpa disadari ini lebih sebagai moralitas dalam setiap cara kita memandang suatu permasalahan..
Tetapi, mengapa lebih sebagai moralitas? Disini saya telah mencapai batas pembicaraan; melanjutkannya berarti akan merampas hak, hak dari pembaca, pembaca yang tak-mudah-percaya....



Lilrid:  Wallahu a’lam

No comments:

Post a Comment