Monday, January 28, 2013

Metodologo Studi Islam


BAB II
PEMBAHASAN
A.     Metodologo Studi Islam
1.      Pengertian metodologi studi Islam
Metodologi Studi Islam terdiri dari dua kata yaitu: Dalam bahasa Arab Metodologi Studi Islam dipahami sebagai Dirosah Islamiyah, dalam bahasa Inggris disebut Islamic Studies. Metodologi berasal dari bahasa latinmethodologia,  methodus  dan logy. Sebagai sebuah sistem yang luas dari prinsip atau aturan dari   metode atau prosedur yang khusus  diturunkan untuk menafsirkan atau memecahkan berbagai masalah dalam lingkup tertentu dari sebuah disiplin ilmu. Sedangkan studi Islam dipahami sebagai kajian yang bersifat ilmiah dan objektif dalam memahami tentang Islam.
Studi Islam adalahsebuah upaya yang bersifat aspektual, polimetodis, pluralistik dan tanpa batas yang tegas. Ia bersifat aspektual dalam arti bahwa Islam harus diperlakukan sebagai salah satu aspek yang eksistensi. Sedangkan studi Islam bersifat polimetodis dalam arti bahwa berbagai metode atau disiplin yang berbeda digunakan untuk memahami Islam. Oleh karena itu, orang perlu memahami Islam dengan metode sejarah, penyelidikan sosiologis, fenomenologis, dan sebagainya.
Islam sebagai agama ajaran-ajaran tidak hanya mencakup persoalan yang trasedental akan tetapi mencakup pula berbagai persoalan seperti  ekonomi, social, budaya, dan dimensi-dimensi lain dalam kehidupan manusia.
Islam seperti agama-agama lainnya pada level historis empiris sarat dengan berbagai kepentingan yang menempel dalam ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri.
2.      Manfaat mempelajari Metodologi Studi Islam.
Dengan mempelajari metodologi studi Islam akan memberikan ruang dalam pemikiran yang lebih kritis terhadap persoalan agama, sehingga tidak menganggap bahwa ajaran Islam klasik dianggap sebagai taken for granted. Hal ini didasari atas adanya  pujian paradoksal terhadap dunia Islam. Dikatakan, salah satu penyebab kegagalan Islam dewasa ini justru disebabkan oleh keberhasilannya yang gilang gemilang pada masa lalu. Baik karena keyakinan akan ajarannya yang sudah mutlak sempurna serta warisan budaya masa lalu yang amat kaya dan menakjubkan, maka seakan tidak ada lagi ruang bagi umat Islam dewasa ini untuk melakukan inovasi, yang ada adalah melakukan konservasi, revitalisasi, dan kembali kepada kaidah-kaidah lama yang dipersepsikan sebagai zaman keemasan. Sikap ketertutupan ini pada urutannya membatasi kita untuk bisa melihat dan menerima realita dunia baru. Bahwa dunia pada abad lalu bukanlah dunia yang kita huni hari ini.
B.     Metode-Metode Memahami Islam
1. Metodologi Ulumul Tafsir
a. Pengertian Tafsir
         Tafsir berasal dari bahasa Arab fassara, yufassiru, tafsiran yang berarti penjelasan, pemahaman, dan perincian. Selain itu, tafsir dapat pula berarti al-idlah wa al-tabyin, yaitu penjelasan dan keterangan. Selain itu, pengertian tafsir sebagaimana juga dikemukakan pakar Al Qur’an dalam formulasi yang berbeda-beda, namun dengan maksud atau esensinya sama. Salah satunya adalah Az-Zarkasyi. Dan ia mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang fungsinya untuk mengetahui kandungan kitabullah ( Al Qur’an ) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
b. Model Penelitian Tafsir
         Dalam kajian perpustakaan dapat dijumpai berbagai hasil penelitian para pakar Al Qur’an terhadap penafsiran yang dilakukan generasi terdahulu. Berikut ini akan kita kemukakan beberapa model penafsiran Al Qur’an yang dilakukan para ulama tafsir, sebagai berikut :
1)      Model Quraish Shihab
Model penelitian tafsir yang dikembangkan oleh H.M. Quraish Shihab lebih banyak bersifat eksploratif, deskriptif, analitis dan perbandingan, yaitu model penelitian yang berupaya menggali sejauh mungkin produk tafsir yang dilakukan ulama-ulama tafsir terdahulu berdasarkan berbagai literatur tafsir baik yang primer, yakni yang ditulis oleh ulama tafsir yang bersangkutan maupun ulama lainnya, data-data yang dihasilkan dari berbagai literatur tersebut kemudian dideskripsikan secara lengkap serta dianalisis dengan menggunakan pendekatan kategorisasi dan perbandingan. Sehingga, Qurasih Shihab telah meneliti hampir seluruh karya tafsir yang dilakukan para ulama terdahulu.Dari penelitian tersebut telah dihasilkan beberapa kesimpulan yang berkenaan dengan tafsir. Antara lain tentang :
a). Periodisasi pertumbuhan dan perkembangan tafsir
b). Corak-corak penafsiran
c). Macam-macam metode penafsiran Al Qur’an
d). Syarat-syarat dalam menafsirkan Al Qur’an
e). Hubung tafsir modern
2)      Model Ahmad Al-Syabashi
Pada tahun 1985 Ahmad Asy-syarhasbi melakukan penelitian tentang tafsir dengan menggunakan metode deskriptif, eksploratif, dan analisis sebagaimana yang dilakukan Quraish Shihab. Sumber yang digunakan adalah bahan-bahan bacaan atau kepustakaan yang ditulis para ulama tafsir seperti Ibnu Jarir Ath-Thabrari, Az-Zamakhsyari, Jalaluddin As-Suyuthi, Ar-Raghib Al-Ashfahani, Asy-Syatibi, haji kahlifah, dan buku tafsir yang lainnya. Hasil penelitian itu mencakup tiga bidang. Pertama, mengenai sejarah penafsiran al-Qur’an yang dibagi kedalam tafsir pada masa sahabat nabi. Kedua, mengenai corak tafsir, yaitu tafsir ilmiah, tafsir sufi, dan tafsir politik. Ketiga, mengenai gerakan pembaharuan dibidang tafsir.
3). Model Syaikh Muhammad Al- Ghazali
Syaikh Muhammad Al-Ghazali dikenal sebagai tokoh pemikir Islam abad modern yang produktif. Banyak hasil penelitian yang ia lakukan, termasuk dalam bidang tafsir Al Qur’an. Muhammad Al-Ghazali menempuh cara penelitian tafsir yang bercorak eksploratif, deskriptif, dan analitis dengan berdasar pada rujukan kitab-kitab tafsir yang ditulis ulama terdahulu. Kemudian Muhammad Al-Ghazali mengemukakan ada juga tafsir yang bercorak dialogis, seperti yang pernah dilakukan oleh Al-Razi dalam tafsirnya  Al-Tafsir al-kabir.
B.  Metodologi Ulumul Hadits
Pengertian hadits
            Secara bahasa hadits berarti al-khabar, yang berarti ma yutahaddats bih wa yunqal, yaitu sesuatu yang diperbincangkan, dibicarakan atau diberitakan dan dialihkan dari seseorang kepada orang lain. Secara istilah, Jumhur Ulama’ berpendapat bahwa Hadits, khabar, dan atsar mempunyai pengertian yang sama, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasullulah SAW, sahabat atau tabi’in baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun ketetapan, baik semuanya itu dilakukan sewaktu-waktu. Sedangkan ulama ahli ushul fiqih mengatakan hadits adalah segala perkataan, perbuatan dan taqrir nabi yang berkaitan dengan penetapan hukum. Berdasarkan pengertian di atas, hadits adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi baik ucapan, perbuatan maupun ketetapan yang berhubungan dengan hukum Allah yang disyari’atkan kepada manusia.
C.  Metodologi Filsafat dan Teologi ( Kalam )
            Dari segi bahasa , filsafat Islam terdiri dari gabungan kata filsafat dan Islam. Kata filsafat berasal dari kata philoyang berarti cinta, dan kata sophos yang berarti ilmu atau Hikmah . Filsafat Islam berdasar pada ajaran Islam yang bersumberkan Al-Qur’an dan hadist, pembahasannya mencakup bidang kosmalogi, bidang metafisika, masalah kehidupan di dunia, kehidupan di akhirat, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Untuk dapat mengembangkan pemikiran filsafat Islam diperlukan metode dan pendekatan secara seksama.
            Secara umum penelitian ilmu kalam ada dua bagian yakni penelitian yang bersifat dasar (penelitian pemula) dan penelitian yang bersifat lanjutan atau pengembangan dari penelitian dasar. Dan peneliti tersebut akan diuraikan di bawah ini.
a.        Penelitian Pemula
Model Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud  Al-Maturidy Al-Samarqandy
            Model Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud  Al-Maturidy Al-Samarqandy telah menulis buku teologi berjudul kitab al-tauhid. Buku ini telah ditahkik oleh Fatullah Khalif, magister dalam bidang sastra pada Universitas Cambridge. Dalam buku tersebut selain dikemukakan riwayat hidup secara singkat dari Al-Maturidy, juga telah dikemukakan berbagai masalah yang detail dan rumit di dalam ilmu kalam.
b.       Penelitian Lanjutan
            Selain penelitian yang bersifat pemula sebagaimana tersebut diatas, dalam bidang Ilmu Kalam ini juga dijumpai penelitian yang bersifat lanjutan yaitu penelitian atas sejumlah karya yang dilakukan oleh para pemula. Berbagai hasil penelitian lanjutan ini dapat dikemukakan sebagai berikut :
·        Model Abu Zahrah Abu Zahrah mencoba melakukan penelitian terhadap berbagai aliran dalam bidang politik dan teologi yang dituangkan dalam buku karyanya berjudul tarikh al-Mazahib al-Islamiyah fi al-Siyasah wa al-‘Aqaid. Pemasalahan teologi yang diangkat dalam penelitiannya ini di sekitar masalah objek-objek yang dijadikan pangkal pertentangan oleh berbagai aliran dalam bidang politik yang berdampak pada masalah teologi.
            Dari berbagai penelitian lanjutan tersebut dapat diketahui bahwa penelitiannya termasuk penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang mendasarkan pada data yang terdapat dalam berbagai sumber rujukan di bidang teologi Islam. Corak penelitiannya yaitu deskriptif, yaitu penelitian yang ditekankan pada kesungguhan dalam mendeskripsikan data selengkap mungkin. Pendapatan yang digunakan adalah pendekatan historis, yaitu mengkaji masalah teologi berdasarkan data sejarah.
D.  Metodologi Tasawuf dan Mistis Islam
            Dari segi kebahasaan terdapat sejumlah kata atau istilah yang menghubungkan orang dengan tasawuf. Harun Nasution misalnya menyebutkan lima istilah yang terhubung dengan tasawuf, yaitu al-suffah ( ahl al-suffah ) orang yang ikut pindah dengan nabi dari Makkah ke madinah, saf, yaitu barisan yang dijumpai dalam melaksanakan shalat berjamaah, sufi yaitu bersih dan suci, sophos ( bahasa Yunani : Hikmah ) dan suf ( kain wol kasar ).
            Dengan demikian dari segi kebahasaan tasawuf menggambarkan keadaan yang selalu berorientasi kepada kesucian jiwa, mengutamakan panggilan Allah, berpola hidup sederhana, mengutamakan kebenaran dan rela berkorban demi tujuan-tujuan yang lebih mulia di sisi Allah. Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada memberikan aspek rohani manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan akhlak mulia, di dalam tasawuf, seseorang dibina secara intensif tentang cara-cara agar seseorang selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.

C.     Dimensi Dan Aliran Pemikiran Islam
A.     Islam, Iman, dan Ihsan
            Dimensi-dimensi islam yang di maksud pada bagian ini adalah sisi keislaman seseorang, yaitu islam, iman, dan ihsan. Nurcholis madjid menyebutnya sebagai trilogi ajaran ilahi. Setiap pemeluk agama islam mengetahui dengan pasti bahwa islam tidak absah tanpa ima, dan iman tidak sempurna tanpa ihsan. Sebaliknya,ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman mustahil tanpa iman. Dari sisi itulah Nurcholis Madjid melihat iman, islam, dan ihsan sebagai trilogi ajaran ilahi.
1.  Islam adalah agama yang di ridhoi oleh alloh,adapun menurut hadist nabi yg diriwayatkan oleh bukhori islam adalah engkou menyembah alloh dan tidak musyrik kepada alloh,engkou tegakan sholat wajib,engkou tunaikan zakat wajib,dan engkou berpuasa pada bulan romadhon.
2.   Iman adalah membenarkan dengan hati segala sesuatu yang datang atau yang du bawa oleh Nabi Muhammad saw dengan jelas.adapun menurut hadist nabi yg diriwayatkan oleh bukhori iman adalah engkou percaya kepada alloh,malaikat-nya,kitab-nya,para utusan-nya, dan percaya kepada hari kebangkitan.
3.   Ihsan adalah menurut hadist nabi yg diriwayatkan oleh bukhori ” engkou sembah alloh seakan-akan engkou melihat-nya; apabila englou tidak melihat-nya,maka engkou berkeyakinan bahwa dia melihatmu” Ibnu Taimiah menjelaskan bahwa din/agama itu terdiri dari tiga unsur yaitu: Islam,Iman dan Ihsan.Dalam tiga undur itu terselip makna kejenjangan(tingkatan): orang mulai dengan islam, kemudian berkembangan ke arah iman, dan memuncak dalam ihsan.
            Rujukan Ibnu Taimiah dalam mengemukakan pendapat-nya adalah surat al-Fathir ayat(32) yang artinya:”kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri; dan diantara mereka ada yang pertengahan; dan diantara mereka ada pula yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah....”

B.     Aliran Pemikiran Islam
Materi pemikiran islam sempat menjadi perdebatan.secara garis besar, kita dapat membedakan tiga bidang pemikiran islam yaitu; Aliran kalam(teologi), Aliran Fiqih, Aliran Tasawuf.
1.  Aliran-Aliran Kalam
Sungguh kenyataan yang ironi, islam agama yang diyakini sebagai agama yang rahmatul lil a’alamin oleh penganut-nya teryata tidak selamanya bersifat positif.Salah satu buktinya adalah tahkim.Peristiwa ini membuat bencana bagi umat islam sehingga terpecah belah menjadi beberapa kelompok diantaranya ada pendukung ali bin abi tholib,ada pendukung muawiah dan ada yang memisahkan diri(tidak ikut ali dan tidak ikut muawiah).sehingga muncullah golongan-golongan yang baru dianatara-nya:
a.       Khawarij merupakan aliran atau faksi politik, karena pada dasar-nya kelompok itu terbentuk karena persoalan kepemimpinan umat islam.akan tetapi, mereka membentuk suatu ajaran yang kemudian  menjadi ciri utama aliran mereka, yaitu ajaran tentang pelaku dosa besar. Menurut khawarij orang-orang yang terlibat dan menyutujui hasil tahkimtelah melakukan dosa besar.orang islam yang melakukan dosa besar,dalam pandang mereka, berarti telah kafir setelah memeluk Islam berarti murtad, dan orang yang murtad halal di bunuh berdasarkan sebuah hadist Nabi Muhammad Saw ”man baddala dinah faktuluh.” Oleh karena itu mereka memutuskan untuk membunuh Ali bin Abi Tholib,Muawiah bin Abi Sufyan, Abu Musa Al-Asyari,Amr bin Ash dan sahabat-sahabat lain yang metujui tahkim.
b.      Murji’ah Kelompok ini antara lain oleh di pelopori oleh Ghilan Al-Dimasyqi.dalam ajaran utama aliran murjih orang islam yang melakukan dosa besar tidak boleh di hukumikedudukannya dengan hukum dunia mereka tidak boleh ditentukan akan tinggal di neraka atau di surga.kedudukan mereka di tentukan oleh hukum akhirat.sebab bagi mereka perbuatan maksiat tidak merusak iman sebagaimana pernbuatan taat tidak tidak bermanfaat bagi yang kufur.Disamping itu bagi mereka iman adalah pengetahuan tentang alloh secara mutlak,sedangkan kufur adalah ketidaktahuan tentang tuhan secara mutlak.Oleh karena itu menurut murjiah iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang.
c.       Qodariyah Menurut mereka manusia memiliki kemerdekaan dan kebebasan  dalam menentukan perjalanan hidupnya.Menurut paham ini manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
d.      Jabbariyah Menurut mereka ”bahwa dalam hubungan manusia,tuhan itu Maha kuasa. Karena itu Tuhanlah yang menentukan perjalanan hidup manusia dan yang mewujudkan perbuatannya.
e.       Muktazilah adalah merupakan aliran teologi yang dekat.Ajaran-ajaran pokok aliran muktazilah adalah panca-ajaran atau pancasila muktazilah.lima ajaran tersebut adalah:
1. Keesaan Tuhan
2. Keadilan Tuhan
3. Janji dan Ancaman
4. Posisi diantara dua Tempat
5. Amar Ma’ruf nahi Munkar
 Adapun pada zaman sekarang banyak aliran-aliran baru yang disatukan dengan organisasi karena nabi pernah bersabda bahwa akan datang suatu zaman pada umatku menjadi 73 golongan dan semuanya akan masuk neraka kecuali satu yaitu Ahli Sunnah waljama’ah.
2.  Aliran-Aliran Fiqih
Thaha Jabir Fayadh al-ulwani menjelaskan bahwa mazhab fikih islam yang muncul setelah sahabat dan kibar al-tabi’inberjumlah 12 aliran diantara-nya:
1.      Abu Sa’id al-Hasan bin Yasar al-basyri.
2.      Abu Hanifah al-Nu’man bin Tsabit bin Zuthi
3.      Al-auza’i Abu Amr abd al-Rahman
4.      Sufyan bin Said
5.      Al-laits bin Sad
6.      Malik bin anas
7.      Sufyan bin Uyainah
8.      Muhammad bin Idris al-Syafi’i
9.      Ahmad bin Muhammad bin Hambal
10.  Daud bin Ali Ashabahani al-bagdadi
11.  Ishaq bin rahwaih
12.  Abu Tsaur bin Ibrahim
Aliran hokum islam yang terkenal dan masih ada pengikutnya hingga sekarang hanya beberapa aliran di antara-nya: Hanafiah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah.
3.  Aliran-Aliran Tasawuf
Pada dasarnya tasawuf merupakan ajaran yang membicarakan kedekatan antara sufi (manusia) dengan Allah. Dalam al-Quran terdapat beberapa ayat yang menunjukan kedekatan manusia dengan aAllah, antara lain: bahwa alloh dekat dengan manusia (Q.S al-Baqoroh:186) dan Allah lebih dekat kepada manusia di bandingkan urat nadi manusia itu sendiri (Q.S Qaf:16).Pada awalnya tasawuf merupakan ajaran tentang al-zuhd (juhud). Oleh karena itu, pelakunya disebut zahid  Namun kemudian ia berkembang dan namanya di ubah menjadi tasawufdan pelakunya disebut shufi.
Zahid pertama pertama yang termashur adalah al-Hasan al-Basyri, Diantara pendapatnya yang terkenal adalah bahwa ”orang mukmin tidak akan bahagia sebelum berjumpa dengan tuhan.” Zahid lainnya Ibrahim bin Adam dari khurasan, dianatra pendapatnya yang terkenal adalah ”cinta kepada dunia menyebabkan orang menjadi tuli dan buta serta membuat manusia menjadi budak.” Zahid dari kalang perempuan adalah Rabi’ah al-Adawiyah dari Basrah. Ajarannya yang sngat terkenal adalah tentang cinta kepada tuhan. Dalam syairnya, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa membenci orang lain, bahkan tidak dapat mencintai Nabi Muhammad Saw, karena cintanya hanya untuk Allah.Masih banyak sufi-sufi lain yang terkenal karena memiliki ciri khas. Metode tasawuf ada tiga: Tahalli, Takhalli,Tajalli (Said Aqiel Siradj).
Tahalli adalah pengisian diri untuk mendekatkan diri kepada alloh, Takhalli adalah pengosongan diri sufi, Sedangkan tajalli adalah mukasyafah, ma’rifah, dan musyahadah. Dua cara yang pertama-tahalli dan takhalli sedangkan yang terakhir tahaqquq (penyatuan diri dengan tuhan). 
D.     Perbandingan Dalam Studi Islam
Kata “Perbandingan” mengandung unsur kepekaan tinggi, yanag tidak jarang mengundang kecurigaan, bahkan permusuhan. Membandingkan suatu dengan sepadannya dapat diartikan menempatkan satu pihak lebih unggul dari pihak lain. Karena itu perbandingan atau komparasi sering berujung dengan kompetisi. Hal ini mengakibatkan kebanyakan orang enggan untuk membandingkan hal-hal yang sangat berharga baginya dengan hal lain. Setiap pemeluk agama akan menilai agamanya yang terbaik dan yang tersempurna jika dibandingkan dengan agama yang lain. Melihat kenyataan ini, Arnold Toynbee (1889-1975), sejarawan Inggris, secara gamblang berkata bahwa “Tidak seorangpun dapat menyatakan dengan pasti bahwa sebuah agama lebih benar dari agama lain”. 
Orang dapat mengetahui sangat uniknya suatu agama melalui suatu perbandingan, dan dalam memperbandingkan ini dapat dengan mencari perbedaan-perbedaannya. Dan inilah sebabnya mengapa studi agama dan kepercayaan seringkali dimaksudkan sebagai studi perbandingan agama. Sisi terpenting, seperti yang dikemukakan oleh S.G.F. Brandon, memang disadari bahwa untuk memahami humanitas yang umum dan juga permasalahannya secara baik dan tepat, kita perlu mengetahui tentang agama yang dianutnya, politiknya, peraturan ekonominya, dan prestasi ilmiyah serta budayanya karena selain penilaian aspek-aspek agama yang metafisis, ternyata agama juga merupakan fenomena sosial yang sangat mendasar.

1.      Islam dan Perbandingan Agama Lain

Perkembangan pendidikan dan kemajuan ulmu pengetahuan, kesemuanya itu merubah pandangan dan pikiran orang Islam diseluruh dunia dan sekaligus merupakan rennaisance orang Islam dalam lapangan ilmu pengetahuan, penertiban, kehidupan agama dan sebagainya. Dengan perkembangan tersebut para sarjana Islam memperbaharui polemik mereka terutama terhadap aktivitas missi Kristen. Pada umumnya polemik-polemik yang diadakan oleh kaum Muslim merupakan reaksi terhadap literatur-literatur yang diterbitkan oleh orang-orang Kristen. Sejarah hubungan antara Islam dan kristen telah melalui masa yang panjang dan diliputi oleh suasana setempat.  Isi polemik antara Islam dan kristen pada umumnya meliputi permasalahan-permasalahan sebagai berikut:

a.    Kristologi (Islam tidak menyinggung pribadi Yesus sebagai kristus)

b.   Kenabian Muhammad SAW terutama mu’jizatnya

c.    Kedudukan Bybel sebagai wahyu

d.   Ajaran Paulus yang dogmatis

e.    Masalah Moral

Dalam kenyataannya materi politik antara abad pertengahan dan abad dua puluh meliputi hal yang sama, namun sudah tentu terdapat pemikiran baru yang terdapat dalam penerbitan mutakhir. Karena adanya pemikiran baru, maka sekalipun pokok pembicaraan sama. Namun ada perobahan dalam interpretasi. Dalam beberapa hal terdapat perhatian umat Islam terhadap penemuan baru. Adanya penemuan baru tersebut dipergunakan oleh umat Islam untuk membahas kitab suci Kristen.

Dalam hal toleransi, Nabi Muhammad pernah memberi suri tauladan yang sangat inspiring dihadapan para pengikutnya. Sejarah mencatat bahwa nabi pernah dikucilkan dan bahkan diusir dari tanah Makkah. Beliau terpaksa hijrah ke Madinah untuk beberapa lama dan kemudian kembali ke Makkah. Peristiwa ini disebut dengan fatkhul Makkah. Dalam peristiwa yang penuh kemenangan ini, Nabi tidak mengambil langkah balas dendam kepada orang-orang yang telah mengusirnya. 

Dengan titik tolak pandangan tersebut umat Islam pada tempatnya bersikap menghargai agama orang lain. Menghargai agama orang lain tidak identik dengan pengakuan akan pengakuan kebaikan dan kebenaran agama tersebut.

2.      Faktor Perbedaan dan Kesamaan Keyakinan

Manusia mempunyai naluri sebagai makhluk yang beraqidah, atau secara naluriah, manusia adalah makhluk yang beragama. Aqidah agama ini merupakan suatu yang tidak bisa dipisahkan sejak awal pembentukan kejiwaan manusia. Aqidah ini tidak biasa berdiri sendiri dan terlepas dari proses pembentukan. Berbagai macam hasil studi telah sama-sama menguatkan bahwa adanya aqidah (keyakinan agama) ini berdiri dibelakang kemajuan kemajuan yag muncul, dan juga berdiri di belakang penemuan-penemuan materil yang dicapai oleh manusia. Entah itu dalam lapangan ilmu pengetahuan, hasil-hasil prcobaan, methode-methode struktur social, politik dan ekonomi. Maka tak heran bila aqidah agama ini saling berbeda.

Faktor-faktor kehidupan yang ada hubungannya dengan cara memahami alam dan kehidupan. Sehingga ilmu pengetahuan yang dicapai oleh setiap kemajuan corak lama ini merupakan bagian dari aqidah agama yang sangat diyakini oleh anggota-anggota masyarakat. Problem dan Prospek Perbandingan Studi Islam

Kata Hierke Gaard (1813-1855), filosof agamawan asal Denmark, yang setujui banyak orang, “Berlaku netral terhadap studi agama-agama hampir tidak mungkin”. Salah satu sebabnya, seseorang peneliti tidak akan dapat memahami, apalagi mendalami agama tanpa yang bersangkutan terlibat secara emosional dan spiritual dengan agama tersebut. Disamping itu seorang peneliti tidak akan mungkin dapat menghayati dan memahami secara mendalam lebih dari sat agama. 

Menurut Bambang Sugiharto, tantangan yang dihadapi setiap agama sekarang ini sekurang-kurangnya ada tiga yaitu: Pertama, dalam menghadapi persoalan kontemporer yang ditandai dis orientasi nilai dan degradasi miralitas agama ditantang dengan tampil sebagai suara moral yang otentik. Kedua, agama harus menghadapi kecenderungan pluralisme, mengolahnya dalam kerangka “theologi” baru dan mewujudkannya dalam aksi-aksi kerjasama plural. Ketiga, agama tampil sebagai pelopor perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan ketidak. Untuk mengatasi kerancauan diatas, pakar-pakar studi agama lalu membagi pendekatan studi agama (yang juga mencakup studi perbandingan agama) ke dalam dua kategori:

1.   Pendekatan Deskriptif

Pendekatan ini menguraikan secara komprehensif aspek-aspek kesejarahan, struktur, doktrin, dan lain-lain elemen tanpa terlibat dalam pemberian penilaian (Value judgment). Cara ini kemudian dikembangkan oleh pakar-pakar dialog antar agama dengan menggunakan istilah intelektual conversion (beralih) agama pada tingkat pemikiran, bukan pada tingkat imani yang hakiki.

2.   Pendekatan Normatif

Pendekatan ini menjelaskan sebuah agama dengan menitik beratkan kebenaran doktrinal, keunggulan sistem nilai, ontetisitas teks, serta fleksibelitas ajaranya sepanjang masa. Pendekatan ini dengan sendirinya akan menggunakan cara-cara yang bersifat persuasif Apologetik dalam mempertahankan keunggulannya.

Dalam membandimgkan suatu agama dengan agama lain, penekanan unsur-unsur “kelemahan dan kekurangan” pihak lain selalu ditonjolkan. Walaupun pendekatan normatif tetap perlu untuk memeperkukuh iman, pendekatan deskriptif pun tidak kurang pentingnya untuk menghindari konflik agama. Perlu digarisbawahi bahwa salah satu syarat tercapainya kerukunan antar pemeluk agama adalah saling pengertian antar umat beragama.

E.     Orientalisme Melihat Islam Kritis
             Salah satu tujuan Orientalis adalah mengkolonialisasi dunia Islam dari segala aspek, agama, ekonomi, budaya dan kekuasaan. Selain ada empat madzhab (Maliki, Hambali, Syafi'i, dan Hanafi) yang selama ini dikenal dan menjadi rujukan Negara di dunia, kini ada lagi, rujukan yang digandrungi kalangan Islam. Yang terakhir ini adalah rujukan "Orientalis".
             Orientalis dan tujuan Barat mempelajari Islam, bukan untuk mencari keimanan yang benar. Menurut Syamsuddin, ada empat alasan mengapa Barat . Pertama, terpesona terhadap studi Islam (fascination), Kedua, ingin tahu (curiosity), Ketiga, agama (missionary), Keempat, karena god (tuhan/agama), gold (kekayaan/imprealisme), dan glory (kekuasaan) atau sering diistilahkan 3G.
Sebagai umat Islam, kita bersifat terbuka kepada Barat sesuai dengan anjuran agama. Hal yang mendorong kita untuk memiliki sifat itu adalah: (1) Kita adalah pemilik risalah ‘alamiyah (global) yang datang untuk seluruh manusia di seluruh penjuru dunia. Benar bahwa Kitab suci kita berbahasa Arab, Rasul kita seorang Arab, dan Islam tumbuh di dunia Timur (Arab). Tetapi ini bukan berarti bahwa Islam ditujukan hanya untuk bangsa tertentu, melainkan untuk segenap penduduk bumi. Agama masehi sendiri tumbuh di dunia Timur, lalu tersebar di penjuru dunia. (2) Jalan untuk menuju saling pengertian dan berdekatan cukup banyak. (Salah satunya adalah ta’aruf). Jadi ta’aruf bukan saling bermusuhan merupakan kewajiban semua penduduk bumi. Kita tidak sependapat dengan seorang sastrawan Barat yang mengatakan, ‘Timur adalah Timur, dan Barat adalah Barat. Keduanya tidak mungkin bertemu.’ Keduanya justru bisa bertemu, dan bahkan wajib untuk bertemu bila niatnya benar. (3) Dunia yang semakin dekat ini mengharuskan penganut agama-agama samawi dan pemilik tiap peradaban untuk bertemu, berdialog dan saling memahami. Dan tentu saja dialog semacam itu lebih baik daripada pemusuhan
F.     Dunia Islam Sebagai Objek Studi antara Timur dan Barat
A.Objek Studi Islam
          Pertanyan secara keritis berkaitan dengan posisi Islam yang di jadikan objek studi mansih banyak dikembangkan secara lebih luas dan lebih mendalam lagi. Pertanyan-pertanyan semacam ini memiliki peran penting untuk melihat posisi yang jelas terhadap aspek ini. Dengan adanya pertanyaan semacam ini, diharapkan menjadi jelas mengenai aspek apa saja dari Islam yang dapat menjadi objek studi.
          Keagamaan ini terletak pada sifat mendua dari penelitian agama: penelitian agama sebagai cara mencari kebenaran dari agama dan sebagai usaha untuk menemukan dan memahami kebenaran dari realitas empiris, secara metodologis, penelitian agama akan mengalami kesulitan untuk memosisikan antara dirinya dengan masyarakat yang ditelitinya, miskipun ia bagian dari masyarakat dan nilai social yang diteliti tersebut. Adanya jarak inilah yang menentukan bahwa sesuatu yang dijadikan subject matter, sasaran yang diteliti. Jadi penelitian agama sebagai usaha akademis bearti menjadikan agama sebagai sasaran penelitian. Secara metodologis, agma haruslah dijadikan fenomena riil, walaupun agama itu mungkin terasa abstak.  
          Menurut Taufik Abdullah, agama sebagai sasaran kajian dapat dikatogorikan menjadi tiga, yaitu agama sebagai doktrin,dinamika dan struktur masyarakat yang di bentuk oleh agama, dan sikap masyarakat pemeluk terhadap doktrin.
Kategori pertama mempersoalkan substansi ajaran agama. Namun yang menjadi sasaran penelitian agama sebagai doktrin adalah pemahamaan manusia terhadap doktrin-doktrin tersebut. Kategori kedua meninjau agama dalam kehidupan social dan dinamika sejarah. Sementara kategori ketiga merupakan usaha untuk mengatahui corak penghadapan masyarakat terhadap siymbol dan ajaran Islam.
          Secara lebih terperinci, dalam mempelajari suatu agama, ada lima bentuk fenomena agama sebagai bentuk kebudayaan yang perlu diperhatikan. Lima hal tersebut adalah:
a.     Naskah-naskaah (scripture) atau simbol-simbol agama.
b.     Sikap, perilaku dan penghayatan para pengnut atau tokoh-tokoh agama.
c.     Ritus-ritus,lembaga-lembaga, dan ibadat-ibadat agama, seperti sahalat, haji, puasa, zakat nikah dan sebagainya.
d.     Alat-alat atau sarana peribadatan, seperti masjid, paci dan sebagainya.
e.     Lembaga atau organisasi keagamaan tempat para pengnut agma bergumpul berperan.
B.  Studi Islam di Barat
          Ditinjau dari perspektif sejarah, studi yang dilakukan oleh orang Indonesia di Barat berlansung cukup lama. Namun demikian, fokus studi yang dilakkukan belum menyentuh secara langsung dalam bidang kajiian Islam.
          Fokus studi Islam baru mulai dilakukan setelah Indonesia merdeka. Dan orang Indonesia yang pertama kali yang melakukan studi Islam di Barat adalah M. Rasijidi. Mentri pertama Indonesia ini menanamkan perogaram doctor di Universitas Sarbone Perancis. Disertai Rajidi berjudul l’evolution dengan l’Islam en Indonesia ou Consideration  Critigue du liver, Tjentini. Sebagai doctor pertama dari Universitas di Barat menjadikan Rasjidi sebagai idola dan sumber Ilham bagi generasi muda Indonesia. Sebagai seorang intelektual, Rasidi telah mengambil bagian terpenting dalam usaha dalam menghidupkan kembali  “api“ Islam (Istilah Bung Karno), yang api itu sepanjang ajaran, atau lebih tepatnya penemuan kembali, jamaluddin al-afgani, ialah keimanan yang teguh namun tetap memberi kebebasan berfikir serta kesedian untuk mempelajari dan mengambil “hikmah “ dari mana saja. Tokoh lain yang terpenting menjadi generasi awal yang melakukan studi islam di Barat pasca rasjidi adalah Harun Nasution.
          Harun menempuh peguruan tingginya di kairo dan di kenada. Jadi perpaduan Timur tengah dan Barat. Namun demikian, sebagaimana diakuinya, Studi di Mcgill kenada yang menerohkan pengaruh mendalam dalam perjalanan karier akademiknya.
          Tiga tokoh di atas, yaitu Rasidi, Harun Nastion, dan Mukti Ali, adalah generasi awal sejarah Islam Indonesia yang melakukan studi Islam di negeri Barat. Setelah generasi mereka banyak bermunculan intektual yang juga menempuh studi Islam di Barat. Beberapa diantaranya adalah Nurcholish Majid, A. Syafi’iMa’arif, AzyumardiAzra, M. Athho’Muhzar, M. Dien Syamsuddin, Safiq A. Mughni, Achmad Jainuri, Thoha Hamim, dan Akh Minhaji. Para alumni Barat ini memiliki pengaruh dan kontrobusi besar dalam studi Islam di Indonesia.
          Studi islam di negeri Belanda dilakukan di beberapa Universitas pada fakultas-falkultas tertentu. Memang disana tidak ada fakultas Khusus yang mempelajari agama Islam, tetapi Islam dipelajari dalam kerangka berbagai disiplin ilmu. Ada enam fakultas yang menjadikan Islam sebagai bidang studi yang terbesar di  berapa fakultas dan vak grup, antara lain: [1] Universitas Leiden (Negeri) [2] Universitas Khtolik Nijimegen, [3] Universitas Amsterdam (negeri), [4] Universitas Portestan Amsterdam (Vrije Universiteit), [5] Universitas Groningen (negeri), dan [6] Universitas Utrecht (Negeri).
C.Studi Islam di Timur
          Hampir sama yang terjadi di Barat, studi Islam dinegeri-negeri Timur Tengah juga bervariasi. Antara satu neraga dengan Negara lainnya terdapat perbedaan. Ini merupakan hal yang wajar karena karakteristik studi Islam dipengaruhi oleh berbagai factor, diantaranya paktor kebijakan politik, dinamika social budaya latar belakang pemegang kebijakan pendidikan perkembangan ekonomi, dan berbagai factor lainya. Diuniversitas Teheran Iran, minsalnya,ada ruang khusus yang menyimpan naskah-naskah kuno, yang ditulis oleh para pemikir klasik dan ditulis oleh bahasa Persia. Maka pantas kalau Marshal hudgson mengtakandalam bukunya, The venture of Islam, bahwa dalam pemikiran Islam, ada Islam, ada Islamicate, dan ada Islamdom, yakni debudayaan Islam setelah berinteraksi dengan berbagai budaya dari negeri-negeri yang kemudian yang di sebut negeri-negeri Muslim. Di Teheran Iran, ada juga Universitas  Imam sadiq yang mempelajari Islam dan ilmu umum sekaligus. Di Universitas Damakus Syria, yang memiliki banyak fakultas umum, studi Islam ditampung dalam Kuliatu al-Syari’ah (Fakultas Syari’ah), yang di dalamnya ada perogaram studi Ushuludin, Thasawuf, Tafsir, dan sejenisnya. Jadi pengertian Syari’ah di situ lebih luas dari pada pengertian syari’ah sebagai hokum Islam, seperti yang ada di IAIN.
                   Di Aligarch University India, studi Islam dibagi  menjadi dua. Pertama Islam sebagai doktrin dikaji dalam fakultas Ushuluddin yang mempunyai dua jurusan; jurusan Madzabab Ahli Sunnah dan Syi’ah. Kedua, Islam sebagai sejarah dikaji pada fakultas Humaniora dalam jurusan Islamic Studi yang berdiri sejajar dengan jurusan politik, sejarah, dan lain-lain. Di Jamiah Millia Islamia, New Delhi, Islamic Studi Progaram berada pada Fakultas Humaniora, bersama sengan Arabic studies, Persian studies, dan Political Scrince.
          Di Universitas Islam Internasional Malaysia, program studi Islam berada di bawah kulliyah of Revealed Knowledge and Human Sciences (Fakultas Ilmu Kewahuyuan dan Ilmu Kemanusiaan). Selain jurusan kewahyuan dan warisan Islam, dalam fkultas ini juga ada jurusan-jurusan piskologi, sosiologi, filsafat, ilmu politik, dan lain-lain. Di Universitas al-Azhar Mesir, yang minjadi imam bagi IAIN dari sebagai metodologoi mendekati Islam, paling kurang pada awal-awalnya, studi Islam telah berubah bentuk pengorgannisasinya. Al-Azhar sampai tahu 1961 memiliki fkultas-fakultas seperti yang dimiliki IAIN. Setelah tahu 1961, Al-azahr tidak lagi membatasi diri pada fkultas-fakultas agama, tetapi juga membuka fakultas-fakultas lain Al-Azhar, di samping ada di kairo, juga ada di daerah-daerah dan mempunyai program khusus untuk wanita dan laki-laki. Di kairo sendiri ada berapa fakultas, yakni fakultas Ushuludin, fakultas Hukum (Islamic jurisprudence and Laukauliatu al-syari’ah wa al-Hukum). Fakultas Bahasa Arab (Faculty of Arabic language/Kulliah al-‘Arabiyah), fakultas studi Islam dan Arab (Faculty of Islamic and Arabic Studies/Kulliyah al-Dirasah al- Islamiah wal ‘Arabiah), Fakultas Dakwah, Fakultas Tarbiyah, Kulliah Lughah wa al-Terjamaah (Fakultas Bahasa dan Terjamaah), Fsculty of Science (Fakultas Sains), Fakultas Kedokteran (Faculty of Medicine), Fakkultas Pertanian, Ekonomi, dan Tehnik. pada Fakultas Sains terdapat jurusan-jurusan Kemia, Geologi, Microbiologi, Anatomi, Astronomi, Fisika dan Zoology. Sedangkan pada Fakultas perternakan terdapat jurusan perternakan, Ekonomi Pertanian, Industri Makanan, Genetika, Pertahanan, Insekisida, Hortikultura, dan Masyarakat Perdesan.
          Di daerah-daerah seperti di al- Suyut, ada Fakultas Ushuluddin, Dakwah, Saryi’ah wal Huquq, Bahasa Arab Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi dan Farmasi. Di zakasyi ada Fakultas Ushuluddin, Dakwah, dan Saryri’ah wal Huquq. Di al Mansyurah ada Fakultas Ushuluddin, Dakwah, Bahasa Arab. Di Tanta ada Fakultas Ushuluddin, Dakwah, Bahasa Arab dan seterusnya. Melihat peran ini kita simpulkan bahwasanya studi Islam di Timur Tengah, sebagaimana studi Islam di Barat dan berbagai Negara lainnya, juga tidak seragam. Ada kerateristik yang khas dari masing-masing Negara dan juga peguruan tinggi. Hal ini men jadikan kekayaan warna dalam studi Islam di masing-masing lembaga dan Negara. Konsutruksi semacam ini justru akan memperkaya warna studi Islam. 
G.    Islam Dan Globalisasi
            Pada dunia yang sedang berkembang dengan pesat kemajuan-kemajuan dari berbagai bidang yang tidak memiliki batas dan tahap yang ditetapkan, namun islam tidak melarang umatnya untuk menjalani kehidupan dengan membawa kemajuan tersebut. Tetapi harus kita tahu bahwa bukan Islam yang mengikut zaman tetapi zaman itu harus sesuai dengan Islam. Amat rugi jika orang memandang dengan begitu sempit pemikiran jika kita tidak bisa mengikut kemajuan zaman karena ada sisi yang lain bisa kita mendapatkan keuntungan dengan kemajuan era globalisasi ini.
            Jika kita lihat pada masa dahulu tidak ada teknologi sebegitu maju berbanding sekarang. Pada masa kini, computer itu tidak asing dimata manusia tetapi umat islam ramai yang terlewat untuk mengikuti kemajuan yang ada bahkan pencipta barangan teknologi itu adalah orang bukan islam. Bagitu kita lihat bahwa islam pada pokoknya tidak melarang tetapi sekarang masih tidak ada hasil yang dibawakan oleh dikalang orang islam sendiri. Jika untuk mewujudkan benda teknologi sudah tidak berkembang oleh orang islam, malah ada yang tidak memperdulikan dengan dan tidak mampu untuk menoperasikan computer, internet dan lain- lain.
            Harusnya kita sedari bahwa umat islam menjadi kelompok yang terkebelakang dalam penguasaan dan pengembangan sains dan juga teknologi. Sedangkan dari sisi yang lain, kelompok agama lain begitu maju dengan berbagai teknologi dari pengamatan terhadap luar angkasa hingga terknologi pertanian. Harus dibuktikan bahwa islam ini tidak hanya bisa menjadi pengikut global sahaja. Islam tidak melarang tetapi kenapa sekarang terjadi sebaliknya? Persoalan ini harus dijawab dengan perubahan yang memperlihatkan bahwa kita harus berubah dengan mempunyai kekuatan.
H.       Islam Eksklusif Dan Inklusif
Inksklusifitas islam adalah agama yang universal dan dapat diterima oleh semua orang yang berakal sehat tanpa memperdulikan latar belakang, suku bangsa, status sosial dan atribut keduniawian lainya. Islam ekslusif dan inklusif adalah untuk menetapkan persepsi muslim terhadap masalah hubungan islam dan kristen di indonesia.
Diantara ciri-ciri kaum eksklusif yaitu:
a.    Merekah yang menerapkan model penafsiran literal terhadap al-qur’an dan sunah dan masa lalu karena mengunakan pendekatan literal, maka ijtihad bukanlah hal yang sentral kerangka berfikir mereka
b.   Merekah berpendapat bahwa keselamatan yang bisa dicapai melalui agama islam.bagi merekah, islam adalah agama final yang datang untuk mengoreksi agama-agama lain. Karena itu merekah menggugat otentisitas kitab suci agama lain.
Sedangkan yang dimaksud kaum inklusif, memiliki ciri:
a.    Karena merekah memahami agama islam sebagai agama yang berkembang, maka merekah menerapkan metode kontekstual dalam memahami al-qur’an dan sunah, yang memerlukan teks-teks asas dalam islam dan ijtihad berperan sentral dalam pemikiran merekah.
b.   Kaum inklusif memandang, islam adalah agama terbalik bagi merekah:namun merekah berpendapat bahwa keselamatan di luar agama islam adalah hal yang mungkin.
Jika kita cermati sejumlah tulisan Nurcholish madjid dan budy munawar rahmat, merekah sudah masuk kata gori pluralis yang menyatakan semua agama-agama benar dan sebagai jalan yang sah menuju tuhan dan iti bukan inkusif lagi,karena penganut paham inklusif seperti yang di atas.
Pluralisme agama adalah sebuah konsep yang mempunyai makna yang luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap  yang berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang berlain-lainan pula:
1.      Sebagai pandangan dunia yang menyatakan bahwa agama seseorang bukanlah sumber satu-satunya yang eksklusif bagi kebenaran, dan dengan demikian di dalam agama-agama lain pun dapat ditemukan, setidak-tidaknya, suatu kebenaran dan nilai-nilai yang benar.
2.      Sebagai penerimaan atas konsep bahwa dua atau lebih agama yang sama-sama memiliki klaim-klaim kebenaran yang eksklusif sama-sama sahih. Pendapat ini seringkali menekankan aspek-aspek bersama yang terdapat dalam agama-agama.
3.      Kadang-kadang juga digunakan sebagai sinonim untuk, yakni upaya untuk mempromosikan suatu tingkat kesatuan, kerja sama, dan pemahaman yang lebih baik antar agama-agama atau berbagai  dalam satu agama.
4.      Dan sebagai sinonim untuk, yang merupakan prasyarat untuk ko-eksistensi harmonis antara berbagai pemeluk agama ataupun denominasi yang berbeda-beda.
I.          Islam Liberal
            Memahami Islam liberal maka perlu merujuk pada dua kata yang tercakup di dalamnya yaitu kata ‘Islam’ dan ‘liberal’. Mengenai kata ‘Islam’ kita akan masuk kedalam pembahasan yang begitu luas dan mencakup berbagai aspek yang bersentuhan dengan kata Islam. Karena itu perlu pembatasan yang lebih fokus terhadap makna ‘Islam’ bila dikaitkan dengan makna ‘liberal’, yaitu sebagai ‘suatu bentuk penafsiran’ atau ‘pemahaman’. Berawal dari bentuk penafsiran atas Islam, baru kemudian memasuki aspek-aspek lain dalam Islam sendiri. Sementara kata ‘liberal’ memiliki banyak arti dan makna. Dalam Oxford dictionary terdapat tujuh macam arti ‘liberal’, lima di antaranya; 1) memberikan kebebasan, banyak, berlimpah ruah, 2) berfikiran terbuka dan tidak berprasangka, 3) tidak tekstual, 4) memperluas wawasan pemikiran, 5) merubah pemahaman-pemahaman tradisional yang tidak sesuai lagi dengan pemahaman modern, dan lain sebagainya.
            Jadi main stream Islam liberal berkenaan terhadap bentuk penafsiran tertentu atas teks-teks keislaman. Dengan demikian Islam liberal adalah Islam percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional terhadap teks adalah prinsip-prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca atau keadaan. Untuk itu, penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahhiyat (teologi).
            Selain membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam, ide pokok Islam liberal yaitu ‘mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural’. Gagasan tentang kebenaran sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.
            Ada beberapa lagi ide-ide yang dikembangkan Islam liberal seperti, memihak pada yang minoritas dan tertindas, meyakini kebebasan beragama karena tidak seorang pun manusia yang berhak memaksakan suatu pendapat dan kepercayaan kepada orang lain, dan ingin memisahkan  otoritas duniawi dan ukhrawi serta otoritas agama dan politik. Ringkasnya ‘Islam liberal’ adalah Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial politik yang menindas.
            Wujud keberadaan Islam liberal terwadahkan dalam suatu komunitas yang bernama JIL (Jaringan Islam Liberal). Jaringan ini senantiasa intens dalam menyuarakan pemahamannya dengan menggunakan media komputerisasi dan e-mail, di samping media-media cetak seperti buku-buku dan artikel-artikel. Islam liberal memang memiliki wadah atau komunitas. Namun jika kita kembali pada defenisi di atas, maka setiap orang yang punya pemahaman terbuka, tidak tekstual, tidak mau di intervensi oleh pemahaman lain dan sebagainya juga masuk kategori Islam liberal, karena Islam liberal menyangkut banyak makna, walaupun tidak harus masuk ke dalam komunitas JIL.
J.         Jihad dan Terorisme
Berbicara tentang jihad, maka umat Islam harus memahami dengan benar pengertian jihad karena kedudukannya yang tinggi dan mulia di dalam Islam. Posisi (kedudukan) Al Jihad di dalam Islam merupakan puncak yang tertinggi. tidak ditemukan satu amalan lain dalam Islam yang melebihi ketinggiannya. “Puncak ketinggian Islam itu ialah Jihad, tidak akan mampu meraihnya kecuali orang yang lebih utama daripada mereka” (HR.At-Thabrani).
Musuh-musuh Islam tau persis bahwa kekuatan Islam terletak pada ajaran Jihad ini, oleh karena itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan umat Islam dari jihad, dengan menggunakan segala cara, mereka mencoba menyebarkan fitnah seolah-olah jihad itu identik dengan tindakan bar-bar yang tak kenal perikemanusiaan. jihad digambarkan sebagai kebengisan manusia atas manusia lain dengan mantel agama. bahkan akhir-akhir ini jihad diidentikkan dengan terorisme.
Dalam Islam tidak dikenal kata teror apalagi terorisme, karena teror itu adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan terhadap orang atau golongan lain, hal mana yang sangat bertentangan dengan Islam yang mengajarkan perdamaian dan persaudaraan sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Tidak halal bagi seorang Muslim menakut-nakuti orang lainnya”.(HR. Abu Dawud) demikian pula dalam Hadist Riwayat (HR) Muslim yang artinya : “Barang siapa mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya (muslim), maka malaikat akan melaknatnya sehingga ia meninggalkannya”. Disabdakan pula : “Tidak (sempurna) iman seseorang di antara kamu, sampai mencintai untuk saudaranya apa-apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri” (HR. Bukhari Muslim).
Jihad dalam Islam merupakan ajaran yang suci, ia bersih dari berbagai tendensi kejahatan, balas dendam atau berbagai tindak kebengisan dan kekerasan. Jihad adalah cara yang diperkenalkan Islam kepada umatnya untuk membela diri, mempertahankan keyakinannya dan hidup secara layak sebagai makhluk yang bermartabat di muka bumi ini. Tidak ada satupun perintah dalam AlQuran maupun As Sunnah yang mengajak umat Islam memerangi manusia yang berbeda paham, ideologi maupun agama, karena Islam adalah rahmatan lil-alamin.
BAB III 
PENUTUP

A.  KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Metodologi berarti ilmu tentang cara-cara untuk sampai pada tujuan. Metodologi dalam hal pemahaman Islam digunakan untuk mengetahui metode-metode yang tepat agar dapat diperoleh hasil yang utuh dan objektif dalam pemahaman Islam. Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan budaya menyebabkan Islam dipahami sesuai dasar keyakinan masyarakatnya.
Studi Islam sangat penting karena sangat berperan dalam masyarakat. Studi Islam bertujuan untuk mengubah pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat inter dan antar agama.
Dalam memahami Islam dapat digunakan beberapa metode, di antaranya metode filosofis, historis, dan teologis.
Berawal dari sebuah pandangan bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat ini telah terkontaminasi pemikiran barat sekuler dan cenderung ateistik yang berakibat hilangnya nilai-nilai religiusitas dan aspek kesakralannya, menyebabkan munculnya sebuah gagasan untuk mempertemukan kelebihan-kelebihan diantara keduanya sehingga ilmu yang dihasilkan bersifat religius dan bernafaskan tauhid, gagasan ini kemudian dikenal dengan istilah "Islamisasi Ilmu Pengetahuan".
Sedangkan manfaat yang kita dapat rasakan dari Islamisasi Ilmu Pengetahuan antara lain: Setidaknya kita selaku Umat Islam tidak menjadi kafir dan kehilangan arah dalam hal keimanan dalam melihat berbagai fenomena ilmu pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA
Metodologi Studi Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999. Maarif, A. Syafi’i, Islam dan Kekuatan Doktrin dan Keagamaan Umat, Yogyakarta: Pustaka Peljar, 1997. Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998. Shihab, Alwi, Islam Inklusif Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama, Bandung: Mizan, 1997.
A’yun, Qurrota. 2008. Metodologi Memahami Islam. ( online ),
Abdullah, M. Amin, Studi Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
Abud, Abdu Al-Ghny, Aqidah Islam –Vs – ideologi modern, Ponorogo: Tri Murti Press, 1992. Daradjat, Zakiah, Perbandingan Agama Jilid II, Jakarta: Proyek Pembinaan IAIN, 1984. Hakim, Atang Abd. dan Jaih Mubaroh

Tuesday, December 25, 2012

Sejarah Dakwah Nabi Muhammad Saw Periode Mekah

SEJARAH DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW PERIODE MEKAH

Islam lahir di Kota Mekah dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Saat itu Mekah dalam kondisi gelap gulita, budaya jahiliyah berkembang pesat, kesyirikan merajalela. Allah Swt. Mengutus Nabi Muihammad saw. Untuk mengadakan perubahan baik dalam hal akidah maupun tatanan kemasyarakatan. Bagiamana perjalanan Nabi Muhammad saw. Dalam menyiarkan agama Islam di Mekah? Adakah tantangan yang dihadapinya?

A.   Sejarah Nabi Muhammad saw. Periode mekah
Kejahiliyahan (kebodohan) masyarakat arab waktu itu terdapat dalam bidang :
1. AgamaMasyarakat Arab adalah penyembah berhala.  berhala-berhala itu diletakan di Ka’bah
 jumlahnya mencapai 300 lebih. diantara berhala-berhala yang termasyur benama Maabi, Khuzaah, Hubal, Latta, Uzza, dan Manat.
2. Moral masyarakat Arab menjadikan kabilah yang kalah perang menjadi budak,menempatkan perempuan di tempat yang rendah, suka berjudi, dan minum-minumankeras.
3. HukumMasyarakat Arab menganggap bahwa judi, mabuk-mabukkan, bezina, mencuri,merampok, membunuh bukan merupakan perbuatan yang salah.Melihat kondisi masyarakat Mekah dalam kejahiliahan, rasulullah saw. kuranglebih lima tahun terakhir sebelum kenabian selalu berkhalwat mendekatkan dirikepada Allah Swt. di Gua Hira. tujuannya agar Allah Swt. berkenan member petunjuk dalam menghadapi umat. dalam usia 40 Tahun, bertepatan tanggal 17 Ramadhan 610M, Rasulullah Saw. didatangi malaikat Jibril. dan saat itulah turun wahyu yangpertama Surah Al-‘Alaq, 96:1-5 sebagai berikut.
[96:1] Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
[96:2] Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
[96:3] Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
[96:4] Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
[96:5] Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
[96:6] Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
[96:7] karena dia melihat dirinya serba cukup.
(Q.S. Al-‘Alaq, 96: 1-5)

Peristiwa turunnya wahyu pertama tersebut kemudian diperingati sebagai Nuzulul Qur’an.  Setelah menerima wahyu Rasulullah saw. mengalami kegelisahan dan kebingungan kemudian dihibur Khadijah dan diyakinkan bahwa beliau akan dijadikannabi dan akan mengangkat derajat kaumnya dari kehinaan menuju kebahagiaan abadi.kurang lebih dua setengah tahunsetelah wahyu pertama turun barulah turun wahyu kedua Surah Al-Muddassir, 74:1-7 yang berbunyi :

[74:1] Hai orang yang berkemul (berselimut),
[74:2] bangunlah, lalu berilah peringatan!
[74:3] dan Tuhanmu agungkanlah!
[74:4] dan pakaianmu bersihkanlah,
[74:5] dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
[74:6] dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebihbanyak.
[74:7] Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (Q.S. Al-Muddassir, 74:1-7)setelah turun wahyu yang kedua ini kemudian Rasulullah saw. diawal kenabian periode Makkah adalah sebagai berikut :

1. Mengajarkan keesaan Allah Swt.
2. Mengajarkan adanya hari kiamat sebagai hari pembalasan
3. Mengajarkan kesucian jiwa.
4. mengajarkan persaudaraan dan persatuan.

Melihat dakwah Rasulullah saw, orang-orang Quraiys berusaha menghentikan dengan berbagai cara, beberapa tindakan (reaksi) orang kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah Rasulullah saw. adalah sebagai berikut :

1.Ejekan, hinaan, dan memperolok-olok. perhatikan firman Allah Swt. dalam Q.S. Al-Hijr, 15:6 berikut:
[15:6] Mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al Qur'an kepadanya, sesungguhnya kamubenar-benar orang yang gila. (Q.S. Al-Hijr, 15:6)
2. Menjelek-jelek ajaran Nabi Muhammad saw. Perhatikan firman allah Swt. dalam Q.S. Al-Furqan, 25:4 berikut: Dan orang-orang kafir berkata: "Al Qur'an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain maka sesungguhnya merekatelah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar.  “(Q.S. Al-Furqaan, 25:4)
3. Menyodorkan beberapa bentuk penawaran.
4. Melakukan tekanan fisik.

B. Cara Dakwah Rasulullah saw.
1. Dakwah Sembunyi-sembunyi.
lebih kurang selama tiga tahun dimulai dari mengajak anggota keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat. Perhatikan Firman Alla swt. Berikut:

[74:1] Hai orang yang berkemul (berselimut),
[74:2] bangunlah, lalu berilah peringatan!
[74:3] dan Tuhanmu agungkanlah!
[74:4] dan pakaianmu bersihkanlah,
[74:5] dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
[74:6] dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak
[74:7] Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah (Q.S. Al-Muddassir, 74:1-7)

Dari ayat diatas, Allah Swt. Memberikan petunjuk tentang cara menyampaikan agama islam kepada umat manusia, yaitu :
a. Dengan cara sembunyi-sembunyi, sebab orang kafir Quraisy tidak akan senang terhadapagama yang dibawa oleh nabi Muhammad saw.
b. Lemah lembut jangan sampai menyakiti orang.

2. Dakwah Terang-Terangan
Perhatikan firman Allah Swt. Berikut:
[15:94] Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (Q.S. Al-Hijr, 15:94)

Nabi Muhammad saw. Termenung sejenak memikirkan reaksi keras dari kaumnya, terutama pamannya sendiri Abu Lahab. Kemudian turun wahyu yang menerangkan bahwa yang celaka Abu Lahab sendiri. Perhatikan Firman Allah Swt. Berikut!

1.     Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa
2.     Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
3.     Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
4.     Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar
5.     Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Rasulullah saw. Menyampaikan dak’wah mengajak kepada tauhid, iman  kepada Allah Swt, iman kepada hari kiamat, menantang kurafat dan kemusyrikan, menjelaskan kedudukan berhalayang tidak dapat memberi manfaat atau mudarat. Menyadarkan mereka untuk tunduk dan pasrah total Kepada Allah Swt. Dakwah Rasulullah saw. Yang terang-terangan ini mendapat tentanganyang sangat hebat.

3. Reaksi Kaum Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah SAW
Prof. Dr. A. Shalaby dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Islam, telah menjelaskan sebab-sebab kaum Quraisy menentang dakwah Rasulullah SAW, yakni:

1. Kaum kafir Quraisy, terutama para bangsawannya sangat keberatan dengan ajaran persamaan hak dan kedudukan antara semua orang. Mereka mempertahankan tradisi hidup berkasta-kasta dalam masyarakat. Mereka juga ingin mempertahankan perbudakan, sedangkan ajaran Rasulullah SAW (Islam) melarangnya.
2. Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam yang adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam kubur dan alam akhirat, karena mereka merasa ngeri dengan siksa kubur dan azab neraka.
3. Kaum kafir Quraisy menilak ajaran Islam karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidupa bermasyarakat warisan leluhur mereka.
4. Dan, kaum kafir Quraisy menentang keras dan berusaha menghentikan dakwah Rasulullah SAW karena Islam melarang menyembah berhala.

Usaha-usaha kaum kafir Quraisy untuk menolak dan menghentikan dakwah Rasulullah SAW bermacam-macam antara lain:

- Para budak yang telah masuk Islam, seperti: Bilal, Amr bin Fuhairah, Ummu Ubais an-Nahdiyah, dan anaknya al-Muammil dan Az-Zanirah, disiksa oleh para pemiliknya (kaum kafir Quraisy) di luar batas perik emanusiaan.

- Kaum kafir Quraisy mengusulkan pada Nabi Muhammad SAW agar permusuhan di antara mereka dihentikan. Caranya suatu saat kaum kafir Quraisy menganut Islam dan melaksanakan ajarannya. Di saat lain umat Islam menganut agama kamu kafir Quraisy dan melakukan penyembahan terhadap berhala.

Dalam menghadapi tantangan dari kaum kafir Quraisy, salah satunya Nabi Muhammad SAW menyuruh 16 orang sahabatnya, termasuk ke dalamnya Utsman bin Affan dan 4 orang wanita untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), karena Raja Negus di negeri itu memberikan jaminan keamanan. Peristiwa hijrah yang pertama ke Habasyah terjadi pada tahun 615 M.

Suatu saat keenam belas orang tersebut kembali ke Mekah, karena menduga keadaan di Mekah sudah normal dengan masuk Islamnya salah satu kaum kafir Quraisy, yaitu Umar bin Khattab. Namun, dugaan mereka meleset, karena ternyata Abu Jahal labih kejam lagi.

Akhirnya, Rasulullah SAW menyuruh sahabatnya kembali ke Habasyah yang kedua kalinya. Saat itu, dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib.

Pada tahun ke-10 dari kenabian (619 M) Abu Thalib, paman Rasulullah SAW dan pelindungnya wafat. Empat hari setelah itu istri Nabi Muhammad SAW juga telah wafat. Dalam sejarah Islam tahun wafatnya Abu Thalib dan Khadijah disebut ‘amul huzni (tahun duka cita).

C.  Orang-Orang yang Pertama Kali Masuk Islam
Dakwar Rasulullah saw yang sembunyi-sembunyi berhasil membuat beberapa orangmasuk Islam yang disebut As-Sabiqunal Awwalun (yang pertama dan terdahulu) masuk Islam. Mereka itu adalah : Khadijah binti Kuwailid (istri Rasulullah saw.) Ali bin Abi Talib,Zaid bin Harisah, dan Abu Bakar As-Sidiq.

Kemudian menyusul Umar bin Affan, Zubair bin Awwan, Abdul Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, dan Thalhah bin Ubaidillah yang kesemuanya hasil dakwah Abu Bakar as-Sidiq. Kemudian menyusul Bilal bin Rabah, Abu Ubaidillah, Amir bin Jarrah, Abu Salamahbin Abdul Asad, Al Arqam bin Abil Arqam, dan lain-lain. Rumah Al Arqam bin Abil Arqamdijadikan pusat pengajaran Al-Qur’an.

D. Misi Dakwah Nabi Muhammad saw.
Dengan kesabarannya, Rasulullah saw. Mendapat pengiku walau baru beberapa orangyang masuk agama Islam. Perjuangan dakwah ini membutuhkan waktu yang lama untuk membentuk manusia yang beriman kepada Allah Swt.Setelah diperjuangkan oleh Rasulullah saw. Selama lebih kurang 13 tahun di Mekah, islam menjadi agama pilihan orang-orang di Jazirah Arab. Kedatangan islam di Jazirah Arab benar-benar menjadi rahmat bagi Bangsa Arab. Mereka yang tadinya bercerai-berai salingbermusuhan berhasil diastukan oleh satu tujuan mulia, yaitu Dinul Islam. Selama lebihkurang 23 tahun agama Islam disebarkan oleh Nabi Muhammad saw. Dengan pengorbananyang luar biasa. Rasulullah saw. Berjuang dengan jiwa, tenaga dan hartanya demi keyakinanIslam. Islam menjadi Agama yang sempurna sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Swt.Dalam Firman-Nya :

Artinya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkankepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Q.S. Al-Maidah, 5:3)

Islam adalah agama yang sempurna karena sebagai berikut.
1.     Agama Islam merupakan agama untuk seluruh manusia,. Berbeda halnya denganagama samawi sebelumnya, terbatas hanya untuk satu kaum saja.
2.      Ajaran Islam meliputi semua aspek kehidupan.
3.     Agama Islam berfungsi sebagai Rahmatan lil alamin.

Dengan ayat tersebut, misi atau dakwah Nabi Muhammad saw. Untuk menyampaikanIslam telah selesai. Nabi Muhammad saw. Menerima wahyu terakhir itu satu tahun sebelumbeliau melakukan haji wada’ (haji perpisahan) yang diikuti oleh lebih kurang 100.000 kaum muslimin. Dihadapan ratusan ribu jamaah itu Rasulullah saw. Mengucapkan pidato penting dan mempunyai nilai-nilai bagi kaum muslimin. Menurut ahli sejarah, ayat tersebut merupakan wahyu terakhirnya yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Setelah ayat itu dibacakan oleh Nabi Muhammad saw. Abu Bakar as-Sidiq menangis. Lalu Nabi Muhammad saw. Bertanya tentang apa yang menyebabkannya menangis. Abu Bakar As-Sidiq menjawab bahwa sesuatu yang telah sempurna tidak ada lagi.
Jawaban Abu Bakar As-Sidiq itu dibenarkan olehRasulullah saw. Setelah turunya ayat tersebut, tidak lama kemudian beliau wafat. Selama lebih kurang 23 tahun beliau menunaikan tugas sebagai Rasul. Menyampaikan berita gembira dan membawa peringatan untuk semua mahluk di dunia ini. Perhatikan firman Allah Swt. Sebagai berikut!

[34:28] Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagaipembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiadamengetahui. (Q.S. Saba, 34:28)

Demikianlah Nabi Muhammad saw. Diutus bukanlah untuk satu golongan bangsa Arab saja, melainkan untuk semua bangsa dengan tidak mengenal warna kulit, suku atau keturunan. Semua umat Nabi Muhammad saw. Sama, yaitu mereka harus taat dan patuh terhadap ajarannya. Bagi yang patuh akan memperoleh balasan baik dan bagi yang tidak patuh akan memperoleh ganjaran di akhirat, berupa siksa.

E. Manfaat dari Dakwah Rasulullah saw. Di Makkah.
Beberapa manfaat yang dapat kita ambil dari dakwah Rasulullah saw. Adalah sebagai berikut.
1.     Iman kepada Allah Swt. Yang kuat dan beramal kebaikan.
2.     Tanggung jawab dan cita-cita yang mulia untuk berdakwah.
3.     Ketabahan dan keteguhan hati (bersabar).

Monday, December 24, 2012

Pengertian Dan Penjelasan Penyuntingan Naskah

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Penyuntingan Naskah

Menurut KBBI (2007:1106) definisi penyuntingan adalah proses, cara, perbuatan menyunting atau sunting-menyunting. Sedangkan definisi menyunting adalah
1.    menyiapkan naskah siap cetak atau siap terbit dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat).
2.    merencanakan dan mengarahkan penerbitan (surat kabar, majalah).
3.    menyusun atau merakit (film, pita rekaman) dengan cara memotong-motong dan memasang kembali.
Untuk menjadi penyunting naskah ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang. Persyaratan itu meliputi penguasaan ejaan bahasa Indonesia, penguasaan tata bahasa Indonesia, ketelitian dan kesabaran, kemampuan menulis, keluwesan, penguasaan salah satu bidang keilmuan, pengetahuan yang luas dan kepekaan bahasa.
Salah satu tugas dan kewajiban ilmuwan (scientist) dan pandit (scholars) yang melakukan penelitian ialah melaporkan hasil kegiatannya kepada masyarakat lingkungan yang mendukungnya.Laporan ittu harus ditulis selengkapnya secara jelas, tepat tetapi singkat dan lugas untuk kemudian diterbitkan. Dalam proses penyiapan penerbitan laporan itu terlibat penyunting yang akan membantu pengolahan naskah tertulis untuk menjadi bahan tercetak yang akan disampaikan ke masyarakat luas untuk dibaca.
Salah satu tugas pokok penerbit adalah menerbitkan naskah pengarang/penulis menjadi buku. Definisi naskah sendiri menurut KBBI (2007:776) adalah
1.    karangan yang masih ditulis dengan tangan
2.    karangan seseorang yang belum diterbitkan
3.    bahan-bahan berita yang siap untuk diset
Perlu ditekankan sekali lagi bahwa tugas penyunting karya terbatas pada pengolahan naskah menjadi suatu bahan yang siap , dan menawasi pelaksaan segi teknis sampai naskah tadi . penyunting bukan penerbit, jadi mereka tidak bertanggung jawab atas masalahkeuangan, penyebaluasan serta pengelolaan suatu penerbitan. Para penyunting bertanggung jawab atas isi dan bukan atas produksi bahan yang diterbitkan.

B.    Tujuan Penyuntingan

Tujuan Penyuntingan yang dilakukan oleh para penyunting adalah sebagai berikut.
1.    Untuk menjadikan taipskrip sebagai karya yang sempurna yang dapat dibaca dan dihayati dengan mudah oleh pembaca apabila diterbitkan kelak.
2.    Untuk memastikan pengaliran atau penyebaran idea daripada penulis kepada pembaca dapat disampaikan dalam bahasa yang gramatis, jelas, indah dan menarik.
3.    Untuk menjadikan persembahan e-buku yang akan diterbitkan itu dapat menggambarkan nilai dan identiti karya itu sendiri sehingga dapat menarik. minat pembaca.
4.    Untuk memastikan pengaliran dan fakta berkenaan disampaikan dengan jelas, tepat, dan tidak menyalahi agama, undang-undang, dan norma masyarakat.
Dalam penyuntingan, kita mengenal dua tahap penyuntingan, yaitu penyuntingan substansif dan penyuntingan kopi. Berdasarkan tahap-tahap penyuntingan yang ada, maka ada beberapa tujuan lain dari penyuntingan.

1.    Penyuntingan Substantif
Tujuan penyuntingan subtantif dilakukan adalah untuk memastikan hasrat atau idea penulis dapat disampaikan setepat, sepadat, dan sejelas yang mungkin. Semasa membuat penyuntingan subtantif, editor akan membaca taipskrip sepintas lalu dengan memberikan tumpuan kepada kandungan, pendekatan secara menyeluruh, bahasa, susunan atau konsep taipskrip berkenaan.
Berdasarkan hal diatas, editor akan membuat teguran dan cadangan kepada penulis untuk sama ada melengkapkan taipskrip, menulis semula, menyusun semula, menggugurkan atau memotong bahagian teks atau ilustrasi yang tidak perlu, dan membuat tambahan.
Berikut ialah perkara yang perlu diteliti semasa penyuntingan substantif:
a)    Tajuk tepat dan jelas
b)    Pembahagian bab dan tajuk kecil jelas
c)    Adanya kesinambungan antara bahagian, bab dan paragraf.
d)    Keseimbangan antara setiap bab dan paragraf.
e)    Taipskrip tidak bertentangan dengan undang-undang, moral dan agama.
f)    Penguasaan bahasa, keselarasan istilah dan ejaan.
g)    Bahan awalan, teks dan akhir hendaklah lengkap mengikut halamankandungan.
h)    Petikan bahan daripada karya lain telah mendapat keizinan.

2.    Penyuntingan Copy
Tujuan penyuntingan kopi adalah untuk menghapuskan semua halangan yang wujud antara pembaca dengan apa yang hendak disampaikan oleh penulis. Penyuntingan kopi memerlukan perhatian yang teliti terhadap setiap butiran di dalam taipskrip.
Editor perlu berpengetahuan tentang apa yang patut disunting dan gaya yang patut diikuti di samping mempunyai kebolehan untuk membuat keputusan dengan cepat, lojik, dan yang boleh dipertahankan. Semasa membuat suntingan kopi, editor akan membaca taipskrip berkenaan dengan teliti, iaitu membaca perkataan demi perkataan, ayat demi ayat, baris demi baris dan kadang-kadang melihat huruf demi huruf. Kebanyakan daripada masa penyuntingan itu, editor akan berurusan dengan hal penyusunan, bahasa dan kebolehbacaan taipskrip itu.
Tahapan dalam penyuntingan kopi:
a)    Membuat penyuntingan baris demi baris.
b)    Memberi tumpuan khusus kepada fakta dan bahasa.
c)    Memastikan keselarasan ejaan, istilah dan gaya bahasa.
d)    Memastikan ketepatan dan keselarasan ilustrasi dan bahan lain dalam teks tersebut.
Berikut ialah hal-hal yang perlu diteliti semasa penyuntingan kopi:
a)    Fakta - Pastikan semua butiran dalam teks betul. Editor perlu menyemak dengan teliti untuk memastikan ketepatan. Kadang-kadang kesilapan fakta boleh berlaku semasa teks ditaip.Contohnya, papan lapis menjadi papan lapik dan tidak mahal harganya menjadi mahal harganya.Selain itu ada sesetengah pernyataaan yang tidak tepat dan berunsur negatif sehingga boleh membawa kepada tindakan undang-undang.
b)    Bahasa, bahasa yang dimaksud mencakup.
1)    Diksi ialah pemilihan penggunaan kata-kata. Dalam hal ini editor kopi perlu memastikan
2)    kata-kata yang dipilih berkesan dari segi maksud dan
3)    kata-kata yang dipilih sesuai dengan laras bahasa yang digunakan.
C.    Kode Etik Penyuntingan Naskah
Dalam penyuntingan naskah, ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan penyunting naskah sebelum mulai menyunting.Dengan demikian, tidak terjadi persoalan/masalah di kemudian hari, terutama dalam kaitannya dengan penulis/pengarang.Rambu-rambu ini merupakan pedoman/pegangan bagi penyunting dalam menyunting naskah.Rambu-rambu inilah yang kita sebut “Kode Etik Penyuntingan Naskah”.Adapun kode etik dalam penyuntingan naskah adalah:
1. Penyunting naskah wajib mencari informasi mengenai penulis naskah sebelum mulai menyunting naskah.
2.  Penyunting naskah bukanlah penulis naskah.
3.  Penyunting naskah wajib menghormati gaya penulis naskah.
4.  Penyunting naskah wajib merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah yang disuntingnya.
5.  Penyunting naskah wajib mengonsultasikan hal-hal yang mungkin akan diubahnya dalam naskah.
6.  Penyunting naskah tidak boleh menghilangkan naskah yang akan, sedang, atau telah disuntingnya.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa penyuntingan adalah proses, cara, perbuatan menyunting atau sunting-menyunting yakni menyiapkan naskah siap cetak atau siap terbit dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat).Sedangkan naskah adalah karangan yang masih ditulis dengan tangan atau     karangan seseorang yang belum diterbitkan.

B. Saran

Jurnalistik merupakan ilmu terapan yang bisa didapatkan secara otodidak, kursus, baca, dan latihan secara intensif.Namun jika hendak mendalaminya secara keilmuan atau akademis, tentu saja harus masuk pendidikan formal. Dalam jurnalistik penyuntingan merupakan sebuah bagian atau proses dari terbitnya sebuah berita atau sebagainya. Dalam mendalami tentang dunia jurnalistik terutama penyuntingan, sangat dituntut pemahaman tentang penggunaan kaidah bahasa Indonesia. Karena hal ini akan menunjang profesionalisme seorang penyunting. Selain itu, pemahaman tentang teori atau ilmu tentang penyuntingan akan sangat bermanfaat.

Pengertian Dan Penjelasan Menulis Karya Ilmiah

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Penguasaan bahasa dan penguasaan jenis wacana dalam penulisan karya ilmiah merupakan faktor penting yang harus diketahui penulis sejak awal. Faktor bahasa menentukan kualitas tulisan dan penguasaan jenis wacana membantu penulis memilih retorika dalam tulisan.
Aspek bahasa dalam karya ilmiah terkait dengan sikap, pembaca, dan tujuan penulis. Sikap, pembaca, dan tujuan penulisan akan mempengaruhi bagaimana penyajian kalimat, pilihan kata, dan gaya bahasa. Penguasaan bahasa yang baik akan mempermudah penulis memilih jenis wacana yang akan digunakan sebagai media tulisannya.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat disimpulkan bahwa masalah-masalah yang akan dijelaskan pada penulisan makalah ini adalah:
1.    Hakikat tulisan ilmiah
2.    Masalah pokok dalam menulis karya ilmiah
3.    Tahapan menulis karya ilmiah

C.    Tujuan Penulisan
Untuk apa penulis menyajikan tulisan? Tujuan menulis bisa untuk menjelaskan, melaporkan fakta, menyakinkan, mengubah pendapat orang, mempengaruhi sikap pembaca. Karena itu tujuan penulisan terkait dengan jenis wacana apa yang dipilih penulis untuk menyajikan isi tulisan. Tujuan tulisan tercermin dalam sikap penulis terhadap audience dan sikap penulis terhadap materi

D.    Manfaat Penulisan
1.       Agar pembaca memahami definisi karya ilmiah
2.       Pembaca bisa mengetahui hakikat, masalah dan tahapan dari menulis karya ilmiah
3.    Memperdalam wawasan tentang menulis karya ilmiah

E.    Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode Study litelatur, metode ini digunakan dengan cara mencari bahan-bahan tulisan, seperti membuka, membahas, serta manelaah beberapa literature atau bacaan yang berkaitan dengan masalah yang akan dikemukakan setelah terkumpul bahan-bahan yang diperoleh, kemudian dituangkan dalam suatu konsep pada kegiatan penulisan karya tulis ini.

BAB II
MENULIS KARYA ILMIAH

A.    Hakikat Tulisan Ilmiah
Sebuah tulisan dikembangkan dengan mengacu pada tiga hal: Tujuan, Audiens, dan Tone. Tujuan penulisan mengacu pada untuk apa tulisan disajikan. Dalam konteks ini penulis bisa memilih mode atau retorika yang sesuai misalnya, Narasi, Deskripsi, Eksposisi, atau Agumentasi. Dari segi audiens, penulis bisa mengatur bobot dan gaya penulisan menjadi formal, informal atau popular. Tujuan dan audiens, menentukan bagaimana gaya bahasa dan sikap (tone) dari penulis. Tulisan yang ditujukan untuk anak-anak, menggunakan kata “adik, kamu atau teman-teman” dianggap cocok. Tulisan untuk majalah cenderung memilih bahasa gaul sehari-hari.
Karya ilmiah merupakan tulisan yang memiliki bobot akademis tertentu ditinjau dari aspek organisasi tulisan, substansi masah, akurasi data, dan penyajian. Karya ilmiah dievaluasi secara ketat dari beberapa aspek sebagai kriteria sehingga karya ilmiah yang berbobot harus ditulis dengan cermat. Secara umum karya ilmiah disajikan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penulisan dengan kisaran jumlah kata antara 150 kata, 300 kata, 1.500 kata, 5.000 kata, 10.000 kata, 30.000 kata, 40.000 kata, dan 75.000 kata (Budiharso, 2005)

B.    Masalah Pokok Dalam Menulis Karya Ilmiah
Masalah pokok dalam menulis karya ilmiah bisa di kelompokkan  kedalam msalah Empiris, masalah Retorika dan masalah Linguistik.

1.    Masalah Empiris
Masalah Empiris dimaksudkan persoalan menulis yang disebabkan oleh pengalaman dilapangan. Ada tiga hal masalah pokok yang menyebabkan seseorang sulit membuat tulisan, yaitu: keterbatasan penulis mengembangkan ide, pola tulisan kurang standar, dan kurang berbobot substansi tulisan (Krashen, 1984; Connor, 1992; Wahab, 1995; Budiharso, 2001). Pola tulisan yang demikian menyebabkan karya ilmiah kurang bermutu dan tidak mampu mempengaruhi pembaca agar yakin pada apa yang disajikan penulis.
Menulis sebenarnya bukan aspek yang bisa diajarkan. Yang bisa ditransfer dalam menulis adalah latihan menulis, frekuensi menulis, membaca dan meniru pola tulisan yang sudah ada.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Kaplan (1984) menyarankan pola menulis secara “celup”. Calon penulis hendaknya mengikuti saja pola yang akan ditiru untuk tujuan penulisan yang dimaksudkan dan melakukan latihan yang cukup untuk menulis sesuai dengan model yang dikehendaki. Semakin sering berlatih, akan semakin matang tulisan yang dihasilkan. Untuk menulis artikel Koran, penulis harusnya langsung membaca artikel yang ada dan meniru gaya tulisan di Koran tersebut. Untuk menulis artikel di jurnal, penulis bisa langsung membaca jurnal yang diinginkan dan meniru gaya tulisannya sampai penulis merasa mampu (Connor, 1992).

2.    Masalah Retorika
Retorika maksudnya cara mengungkapkan ide. Retorika dalam tulisan tertuang dalam bentuk kelancaran ide, linier tidaknya argumentasi, pola penyajian data pendukung, dan pola membuat simpulan dari suatu argumentasi. Dalam mengungkapkan ide, secara sederhana persoalan retorika meliputi:
a.    Tulisan dengan retorika linier.
b.    Tulisan dengan retorika berputar-putar.
c.    Tulisan dengan retorika berbunga-bunga.
d.    Tulisan dengan retorika tidak jelas.
Dalam karya ilmiah retorika yang dianggap memiliki bobot ilmiah ialah tulisan dengan retorika linier. Wacana yang banyak digunakan dalam karya ilmiah karena memiliki pola retorika yang memenuhi unsur-unsur karya ilmiah ialah eksposisi dan argumentasi.
Dalam bentuk tulisan, retorika ini mengacu pada jenis wacana. Setiap jenis wacana mempengaruhi secara jelas bentuk retorika, pilihan kata, diksi, dan tata bahasa yang digunakan penulis. Dalam aspek ini dikenal empat jenis wacana yaitu: (1) narasi, (2) deskripsi, (3) eksposisi, dan (4) argumentasi.
Pada wacana narasi, penulis bebas menggunakan gaya bahasa yang bersifat subjektif dan berbunga-bunga. Cara menyajikan alasan dalam teks umumnya bersifat kronologis. Dengan demikian gaya bahasa, diksi, kosa-kata, dan pola tulisan sangat tergantung pada isi pikiran dan imajinasi penulis.
Pada wacana deskripsi, penulis harus mampu memfungsikan panca indera secara cermat, menyajikan urutan persoalan berdasarkan sudut pandang yang dianggap paling berperanan, dan memilih kosa-kata yang bisa mempengaruhi panca indera. Gaya bahasa yang dipilih harulah objektif dan lugas.
Pada wacana eksposisi, tujuan penulis adalah menjelaskan, mengklarifikasi, dan memberi penegasan terhadap suatu hal. Karena itu, tulisan dalam bentuk eksposisi memerlukan banyak dukungan data yang disajikan dalam bentuk kutipan, statistic, perbandingan, contoh, atau sintesis. Karena itu pula, gaya penulisan dalam wacana eksposisi harus objektif, langsung pada pokok persoalan, dan ringkas (succinct).
Pada wacana argumentasi, bertujuan untuk menyakinkan pembaca agar mengikuti pola piker penulis sehingga pembaca akan bertambah pandangannya atau mengikuti pandangan penulis. Untuk membuat tulisan argumentasi yang baik, penulis harus memulai dengan thesis atau claim yang sifatnya kontroversi. Wacana argumentasi ini merupakan wacana yang juga banyak digunakan dalam karya ilmiah dan dianggap memiliki bobot yang lebih kuat.

3.    Masalah Linguistik
Masalah linguistik maksudnya masalah penguasaan bahasa. Dalam aspek ini ada empat hal yang dijadikan acuan, yaitu:
a.    Sintaksis.
b.    Gramatika.
c.    Diksi dan Kosa-Kata (pilihan kata).
d.    Mekanik.
Wacana yang ditulis dengan baik, umumnya memenuhi syarat retorika yang baik dan syarat linguistic dengan hamper sempurna. Jika ide disampaikan dengan baik dan runtut, kalimat-kalimat yang mendukung dan pilihan kata yang tepat, digunakan untuk mendukung gagasan. Sebaliknya, wacana yang kurang berbobot, umumnya retorikanya kacau, tidak linier, tidak ada jelas, tatabahasa kacau, kosa-kata tidak tepat sasaran, dan mekanik tulisannya rusak.
Aspek sintaksis adalah kemampuan penulis dalam menyajikan ide dalam bentuk kalimat sederhana, kalimat majemuk, kalimat kompleks, dan kalimat majemuk-kompleks. Tulisan yang menggunakan kalimat majemuk dan kalimat kompleks secara proporsional dinilai sebagai tulisan yangmatang dan berbobot.
Setelah aspek sintaksis, penulis juga harus menunjukkanpenguasaan gramatika secara baik, benar, dan standar. Kekeliruan menggunakan gramatika ini sangat mengganggu dan menghilangkan ide. Umumnya kekeliruan jenis ini ditandai dengan: kalimat tidak memiliki subjek, kalimat tidak memiliki predikat, atau kalimat yang belum selesai.
Dari aspek pilihan kata, kekeliruan terjadi misalnya dalam penggunaan kata asing. Umumnya pilihan kata ini salah ditempatkan dalam posisi subjek, predikat, atau keterangan.
Aspek mekanik maksudnya penggunaan tanda baca (punctuation) yang meliputi:
a.    Menggunakan titik koma, seperti: Titik (.), Koma (,), Tanda Tanya (?), Titik Dua (:), Titik Koma (;).
b.    Penggunaan huruf capital.
c.    Penggunaan kata pada awal paragraf.
d.    Penggunaan symbol matematika, seperti persentase, penomoran, dsb.

C.    Tahapan Menulis Karya Ilmiah
Bagian ini dibatasi pada tahapan penguasaan jenis tulisan, yaitu penguasaan paragraf dan penguasaan komposisi atau esai. Hanya bagian yang pokok-pokok saja yang diuraikan sebagai bahan kajian dalam bagian ini.

1.    Paragraf
Paragraf maksudnya unit tulisan yang paling pendek, bisa berbentuk satu kalimat, bisa terdiri dari beberapa kalimat. Paragraf yang lengkap memiliki tiga unsur yaitu: kalimat pembuka, kalimat pengembang, dan kalimat penyimpul.
Paragraf yang baik haruslah memenuhi unsur:
a.    Kalimat topic dan dalam kalimat topic dijelaskan secara tegas ide pembatasnya.
b.    Memiliki kalimat pengembang.
c.    Memiliki kalimat penyimpul.
d.    Memiliki koherensi.
e.    Memiliki keutuhan (unity).
Syarat terakhir paragraf yang baik adalah memiliki unity. Unity maksudnya satu paragraf hanya membahas satu pokok pikiran. Pokok pikiran dalam suatu paragraf bisa dilihat dari kalimat tofik dan ide pembatasnya. Paragraf yang baik tidak membuat informasi tambahan setelah kalimat penyimpul. Paragraf yang tidak mempunyai unity ditandai dengan munculnya uraian dalam kalimat pengembang lebih dari yang ditulis dalam ide pembatas.

2.    Komposisi atau Esai
Komposisi adalah tulisan yang terdiri dari 3-5 paragraf. Karena sifatnya uraian bebas, komposisi biasa disebut dengan istilah esai. Tulisan ini secara ilmiah digunakan untuk menguji kompetensi misalnya TOEFL, seleksi masuk Program Doktor atau tes ke luar negeri. Komposisi sangat bermanfaat untuk memberikan informasi akurat mengenai autentisitas seseorang dalam sebuah tes. Dalam bentuk lain, komposisi ini berupa tulisan opini untuk surat kabar, kolom majalah, teks pidato, ulasan buku, atau komentar. Panjang tulisan antara 1-3 halaman quarto diketik dalam spasi tunggal. Jenis wacana dalam tulisan ini umumnya eksposisi dan argumentasi.

3.    Pengembangan Komposisi
Sama dengan struktur paragraph, struktur komposisi terdiri dari: pembuka, isi, dan penutup. Komposisi atau esai memiliki tiga unsur utama yang harus dipenuhi:
a.    paragraf pembuka.
b.    paragraf pengembang.
c.    paragraf penutup.
Paragraf pembuka bertujuan untuk menjelaskan topic dan batasan apa yang hendak diuraikan penulis dalam keseluruhan esai. Paragraf pembuka berisi thesis statement atau claim yang akan diuraikan dalam paragraf pengembang. Thesis Statement atau Claim ialah pernyataan pokok dari penulis tentang suatu topic yang akan diuraikan kedalam esai. Thesis Statement inilah yang akan dibuktikan, diuraikan, dijelaskan, dipertahankan atau diklarifikasi oleh penulis. Agar pembuktian dan uraian mengenai Thesis tadi layak, penulis harus mendukung dengan data, fakta, dan logika yang bagus dan standar menurut karya ilmiah. Seberapa jumlah Thesis Statement yang akan diuraikan, mempengaruhi seberapa banyak jumlah paragraf pengembang yang harus dibuat penulis.
Paragraf pengembang bertujuan untuk menjelaskan dan menguraikan thesis  yang dijelaskan dalam paragraf pembuka. Semakin banyak paragraf pengembang, semakin jelas dan tuntas pembahasan dalam esai. Untuk membuat paragraf pengembang, diperlukan teknik paragraf pengembangan paragraf. Beberapa teknik yang sering digunakan untuk membuat paragraf pengembang ialah: kutipan, statistic. Contoh:  perbandingan, pengalaman, kontras. Karya ilmiah yang baik, mencantumkan kutipan dari sumber rujukan secara proporsional. Semakin banyak kutipan, karya ilmiah dinilai semakin berbobot.
Paragraf penutup berisi simpulan dari uraian yang ditulis dalam paragraf pengembang. Namun paragraf penutup harus tetap mengacu pada thesis statement yang dijelaskan dalam paragraf pembuka. Sama dengan penulsan kalimat penyimpul dalam paragraf, paragraf penutup bisa ditulis dengan teknik: Summary, Parapbrase, dan Restatement. 

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa menulis karya ilmiah mempunyai tahapan penulisan yaitu penguasaan paragraf dan penguasaan komposisi atau esai.
Keutuhan satu paragraf dapat dicapai jika didalam paragraf itu hanya membahas satu ide pokok saja. Ide pokok yang akan dibahas itu dinyatakan dalam kalimat topic, dan kemudian kalimat-kalimat pendukungnya merupakan penjelasan, ilustrasi, atau contoh-contoh yang lebih rinci dari ide pokok yang dinyatakan dalam kalimat tadi.

B.    Saran
Di dalam pembuatan makalah yang sangat sederhana ini, yang mungkin mempunyai banyak kesalahan, baik dari penulisan maupun ucapan penyampaian mohon dimaafkan dengan segala kerendahan hati.
Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca/pendengar yang bersifat membangun. Atas partisipasinya pemakalah ucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Arnaundent, M. and Barret M.M 1981. Paragraf Development: A Guide For Students Of English As a Second Language. Rowly, Massachusetts, Prentice Hall Inc.
Bolinger, D. and Sears, D.A. 1982. Aspects of Language. New York: Harcourt Brace Jovanovich Inc.
Brereton, J.C. 1982. A Plan For Writing. New York: CBS College Publishing.
Connor, U. 1996. Contrastive Rbetoric: Cross-Cultural Aspects of Second Language Writing. Cambridge: Cambridge University Press.
Flower, LS and J.R Hayes. 1981. A Cognitive Process Theory of Writing. College Composition and Communication, 32 (4):365-387.
Guntur Waseso, M. dan Ali Saukah (Ed.). 2003. Penerbitan Jurnal Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang press.
Huda, N. 1999. Language Learning and Teaching: Issues and Trends. Malang: IKIP MALANG Publishers.
Ibnu, Suhadi. 2003. Anatomi Artikel Hasil Pemikiran dan Artikel Hasil Penelitian. Makalah. Malang: Universitas Negeri Malang.
Langan, J. 1986. College Writing Skills with Reading. London: McGraw-Hill Company.

Pengertian Dan Penjelasan Kalimat, Kalimat Efektif Dan Paragraf

A. KALIMAT 
Pengertian kalimat  

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis harus memiliki S dan P (Srifin dan Tasai, 2002: 58). Panjang atau pendek, kalimat hanya terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat pendek menjadi panjang atau berkembang karena diberi tambahan-tambahan atau keterangan-keterangan pada subjek, pada predikat, atau pada keduanya (Wijayamartaya, 1991: 9).

Pendapat lain mengatakan, kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun (Ramlan, 1981:6). Menurut Kridalaksana, kalimat adalah suatu bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan baik secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa (Kridalaksan dkk, 1984:224). Satu bagian nujaran yang didahului dan diikuti kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap, adalah kalimat (Keraf, 1978: 156).
kalimat adalah satuan gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap).

1. Macam-macam Kalimat dalam Bahasa Indonesia
Kalimat dapat diklasifikasikan berdasarkan dengan:
a.    Jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya
b.    Jenis respon yang diharapkan
c.    Sifat hubungan actor/aksi
d.    Ada tidaknya unsur negatif pada kalimat utama
     
 Berdasarkan jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, kalimat dapat dibedakan atas kalimat minor dan kalimat mayor,yaitu :

1.    Kalimat minor adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa terikat atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa. Kalimat minor dibedakan atas:
a.    Kalimat minor berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai lanjutan, pelengkap, atau penyempurna kalimat utuh atau klausa lain yang terdahulu dalam wacana.
b.    Kalimat elips, yaitu kalimat minor yang terjadi karena pelepasan beberapa bagian dari klausa kalimat tunggal.
Contoh: Terserah saja. (Penyelesainnya terserah kamu saja).
c.    Kalimat jawaban, yaitu kalimat minor yang bertindak sebagai jawaban atas pentanyaan-pertanyaan.
Contoh : (Apa yang kau bawa itu?) Lukisan.
d.    Kalimat sampingan, yaitu kalimat minor yang terjadi penurunan klausa terikat dari kalimat majemuk subordinat.
Contoh : Meskipun hujan. (Dia tetap datang).
e.    Kalimat urutan, yaitu kalimat mayor, tetapi didahului oleh konjungsi, sehingga menyatakan bahwa kalimat tersebut merupakan bagian kalimat lain.
Contoh : Karena itu, harga minyak naik.
f.    Kalimat minor tak berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai akibat pengisian wacana yang ditentukan oleh situasi, dibedakan atas.
-    Panggilan. Contoh : bakso !
-    Seruan. biasanya terdiri dari kata yang menyatakan ungkapan perasaan. Contoh: halo !
-    Judul, merupakan suatu ungkapan topik atau gagasan. Contoh : Dampak negatif penayangan TV.

2.    Kalimat mayor adalah kalimat yang terdiri atas sekurang-kurangnya satu klausa bebas. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, pembentuk yang inti saja. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, terdapat unsur pembentuk yang inti saja, berdasarkan jumlah klausa yang terdapat didalamnya, kalimat mayor dapat dibedakan atas:
a.    Kalimat majemuk subordinatif, yaitu kalimat majemuk yang salah satu klausanya menduduki : salah satu fungsi sintaksis dari klausa yang lain atau atribut dari salah satu fungsi sintaksis klausa yang lain.
Contoh :
-    Yang berkaca mata hitam itu teman saya.
-    Orang itu badannya sangat gemuk.
-    Polisi telah mengatakan bahwa kabar itu bohong.
b.    Kalimat majemuk koordinat, yaitu kalimat majemuk yang klausa-klausanya tidak menduduki fungsi sintaksis dari klausa lain.
Contoh :
-    Semalam suntuk saya tidur di kursi, dan orang-orang itu bermain kartu.
-    Mula-mula dinyalakannya api, lalu ditaruhnya cerek diatasnya.
-    Dalam perang, kita harus berani membunuh lawan, kalau tidak kita sendiri yang dibunuh.
c.    Kalimat majemuk rapatan, yaitu kalimat majemuk koordinatif yang klausa-klausanya mempunyai kesamaan-kesamaan, baik kesamaan subjek, predikat objek, maupun keterangan.
Contoh :
-    Rumah itu baru saja diperbaiki, tetapi sekarang sudah rusak.
-    Saya mengerjakana bagian depan, adik bagian belakang.
-    Dengan susah payah orang tuaku membangun rumah ini, tetapi saya tinggal menempati saja.
Berdasarkan respon yang diharapkan, kalimat dibedakan atas :

1.    Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan response tertentu. Cirri untuk mengenal kalimat pernyataan ini yaitu melalui pola intonasinya yang bernada akhir turun (dalam bahasa lisan) dan tanda titik (.) seperti ayo, mari; kata-kata persilahkan, seperti silahkan, dipersilahkan; dan kata larangan (jangan).
Contoh :
Cita-cita anak itu sangat mulia.
Saya tidak membawa uang sama sekali.
Menurut teori Darwin, manusia merupakan keteturunan kera.
2.    Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing response yang berupa jawaban. Kalimat pertanyaan dapat dikenal dari pola intonasinya yang bernada akhir naik serta nada terakhir dan pola intonasi kalimat pertanyaan. Nada akhir kalimat pertanyaan ditandai dengan tanda Tanya (?) dalam bahasa tulisan.
Contoh :
-    Kakak sudah menikah?
-    Mengapa anak itu tidak tidur?
-    Siapa pemilik rumah itu?
3.    Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan. Kalimat perintah ditandai dengan tanda seru (!). tetapi penggunaan seru ini biasanya tidak dipakai kalau sifat perintah itu menjadi lemah, demikian juga predikatnya diikuti oleh partikel-lah. Kalimat perintah dapat bersifat negative. Untuk menegatifkan kalimat perintah, digunakan kata jangan yang biasanya ditempatkan pada bagian awal kalimat. Kaliamat perintah yang besifat negative beubah menjadi larangan.
Contoh :
-    Masuklah!
-    Marilah kita belajar bersama-sama!
-    Jangan membuang sampah di sembarang tempat!
Berdasarkan hubungan aktor-aksi, kalimat dapat dibedakan atas :
1.    Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku actor. Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. Predikat kalimat aktif tediri atas verba transitif dan verba intransitive. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai perdikat kalimat aktif ialah meN- dan ber- yang dapat dikombinasikan dengan –I atau –kan.
Contoh :
-    Anak itu memetik bunga di taman.
-    Ayah membelikan kakak baju baru.
-    Pembantu itu sedang menyapu halaman.

2.    Kalimat pasif adalah kalimat yanmhg subjeknya berperan sebagai penderita. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut.
Predikat kalimat pasif terdiri atas verba verba yang berpredikat di- yang dapat bekombinasi dengan sufiks –i dan –kan, beprefiks ter-, berkonfiks ke-an, dan verba yang didahului oleh pronominal persona.
Contoh :
-    Badannya dilumuri minyak.
-    Kita apakan barang-barang ini?
-    Tidak terlihat olehku benda yang kau tujukan itu.

3.    Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat tersebut.
Contoh :
-    Jangan menyiksa diri sendiri.
-    Wanita itu berhias di depan cermin.

4.    Kalimat respirokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu pebuatan yang berbalas-balasan. Verba yang berfungsi sebagai predikat pada kalimat respirokal adalah verba yang beprefiks me- yang didahului oleh kata dasarnya, verba berulang yang berkombinasi dengan konfiks ber-kan, verba dasar yang diikuti oleh kata baku, dan saling yang diikuti oleh veba yang berprefiks me- atau me-i/kan.
Contoh :
-    Kedua Negara itu tuduh-menuduh tentang pelanggaran perbatasan.
-    Dua bersaudara itu saling mencintai dan saling menyayangi.
-    Pemuda-pemuda tanggung itu berbaku hantam d tanah lapang.

B. KALIMAT EFEKTIF 
Pengertian kalimat efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Akan tetapi, kadang-kadang harapan itu tidak tercapai. Misalnya, ada sebagian lawan bicara atau pembaca tidak memahami apa maksud yang diucapkan atau yang dituliskan.
Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang   seharusnya tidak ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah.

Menurut Sabarti Akhdiah (1994:134) menyatakan bahwa secara umum kalimat harus di susun berdasarkan kaidah sebagai berikut :
1.    Penggunaan subjek ganda.
2.    Penjamakan kata yang sudah jamak unsur-unsur yang ada dalam sebuah kalimat.
3.    Aturan ejaan yang berlaku.
4.    Cara-cara memilih kata (diksi).

Syarat umum kalimat efektif adalah :

1.    Kesepadanan dan kesatuan gagasan
Kalimat biasanya terdiri dari subjek, predikat, objek, dan keterangan. Kesepadanan artinya hubungan timbal balik antara subjek dengan predikat, antara predikat dengan objek serta dengan keterangan-keterangannya yang menjelaskan unsur-unsur kalimat tersebut. Kesepadanan artinya pikiran/perasaan ide sama dengan kalimat yang diucapkan atau ditulis. Kesatuan gagasan artinya bahwa sebuah kalimat harus utuh mengandung satu ide pokok atau satu pikiran (tidak menimbulkan salah paham). Biasanya jika sepadan dengan pikiran dan perasaan, kalimat dengan sendirinya akan memiliki kesatuan gagasan.
Contoh kalimat sepadan :
1.    Dosen sedang menyampaikan perkuliahan bahasa arab    (benar)
Kalimat ini sepadan karena kalimatnya utuh dan lengkap.
1.    Bagi dosen sedang menyampaikan perkuliahan bahasa Arab (salah)
Kalimat ini tidak sepadan dan tidak jelas kesatuan gagasannya karena tidak lengkap , tidak mempunyai subjek.

2.    Kelogisan
Kelogisan kalimat adalah kemampuan sebuah kalimat untuk menyatakan sesuatu dengan logika. Sebuah kalimat memiliki kelogisan jika masuk akal.
Contoh kalimat :
1.    Pencuri berhasil ditangkap polisi (salah)
2.    Polisi berhasil menangkap pencuri (benar)

3.   Keparalelan
Keparalelan atau kesejajaran adalah kesamaan unsur-unsur yang digunakan secara konsisten dalam satu kalimat. Jika verba yang di gunakan, unsur yang lain juga verba. Demikian pula, jika nomina yang di gunakan, unsur yang lain juga nomina. Jika aktif yang di gunakan, yang lain juga harus aktif. Demikian pula sebaliknya.
Contoh :
1.    Belajar, bergurau : Dia tidak belajar, melainkan bergurau.

 4.   Penekanan/Ketegasan
Penekanan atau ketegasan ialah penonjolan pada pokok kalimat.

5.    Kehematan
Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Peghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan.

6.    Kepaduan (Koheresi)
Kepaduan adalah adanya hubungan yang padu (koheren) antar unsur kalimat. Satu unsur dengan unsur yang lain tidak boleh diselingi oleh kata yang tidak penting dan letak kata dalam kalimat tidak boleh dipertukarkan.

7.    Kecermatan
Yang dimaksud dengan cermat adalah kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda, dan tepat dalam pilihan kata.

C. PARAGRAF 
1. Pengertian paragraf
Paragraf merupakan bagian karangan tulis yang membentuk satu kesatuan pikiran/ide/gagasan. Adapun kesatuan pikiran/ide/gagasan yang dilisankan disebut paratone atau padu. Jadi paratone dan paragraph sesungguhnya merujuk pada hal sama,yakni kesatuan pengungkapan pikiran/ide/ gagasan.
Setiap paragraf dan paratone dikenalikan oleh satu ide pokok.Ide pokok harus dikemas dalam sebuah kalimat, yakni kalimat topik atau kalimat utama.
2. Syarat-Syarat Paragraf yang baik
Ada beberapa syarat agar kalimat bisa menjadi suatu paragraf yang baik, yaitu :
a.    Penggunaan Pengulangan Kata atau Kata kunci
Kata kunci (keywords) adalah kata yang diulang untuk mengaitkan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya.
b.    Penggunaan Kata Ganti
Kata ganti adalah kata yang dapat menggantikan nominal atau frase nominal, misalnya: dia, beliau, (pronominal persona ‘kata ganti orang’), itu ini, di sini, di situ (pronominal demonstrative ‘kata ganti penunjuk’), dan –nya, -ku, -mu (pronominal objektif ‘kata ganti sasaran’).
3. Unsur-unsur Paragraf
Unsur lahiriah paragraf juga berupa kalimat, frasa, kata, dan lain-lain; sedangkan unsur nonlahiriah paragraf berupa makna atau maksud penulis yang dikandung di dalam keseluruhan jiwa paragraf itu. Secara lahiriah, khususnya paragraf nonnaratif, lazimnya paragraf tersusun dari :
1.    Kalimat topik atau kalimat utama
2.    Kalimat pengembang atau kalimat penjelas
3.    Kalimat penegas
4.    Kalimat transisi
Dalam paragraf naratif, ide pokok paragraph tersebar di dalam keseluruhan kalimat yang membangun paragraf naratif.Jadi paragraf naratif tidak selalu harus mengikuti ciri-ciri lahiriah paragraf seperti disebutkan di atas. Unsur-unsur lahiriah paragraf haruslah padu; unsur nonlahiriah paragraf juga harus satu. Kepaduan lahiriah paragraf disebut koherensi; kesatuan nonlahiriah pargaraf disebut kohesi.